Ini Cara Cambridge Gunakan Data Facebook untuk Menangkan Trump

Kompas.com - 27/03/2018, 19:11 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara di acara Generation Next, sebuah Forum Gedung Putih yang menghadirkan kaum milenial dan pejabat pemerintah pada Kamis (22/3/2018), di Washington DC. (AFP/Mandel Ngan) Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara di acara Generation Next, sebuah Forum Gedung Putih yang menghadirkan kaum milenial dan pejabat pemerintah pada Kamis (22/3/2018), di Washington DC. (AFP/Mandel Ngan)


KOMPAS.com — Tak kurang dari 50 juta pengguna Facebook ada di tangan firma analisis data, Cambridge Analytica. Data ini ternyata digunakan untuk kampanye pemenangan Trump pada Pilpres AS 2016 lalu.

Bagaimana caranya data ini digunakan? Media kenamaan Inggris, The Guardian, belum lama ini mendapat bocoran dokumen cetak biru soal bagaimana data ini dimanfaatkan tim kampanye Donald Trump.

Cetak biru ini didapatkan dari mantan pegawai Cambridge Analytica yang baru saja mengakhiri kontraknya dengan perusahaan firma analis data ini. Ia mengklaim dalam dokumen tercatat jelas bagaimana seluruh data pengguna Facebook itu digunakan.

Dalam cetak biru tersebut tercantum setidaknya ada 27 halaman presentasi yang dibuat oleh Cambridge Analytica. Presentasi ini sejatinya dibuat sebagai bahan untuk ditunjukkan kepada klien potensial demi mendapat keuntungan.

"Ini adalah kumpulan kampanye digital berbasis data yang digunakan Trump," ujar Brittany Kaiser, mantan Direktur Pengembangan Bisnis Cambridge Analytica yang membawa cetak biru ini sebagaimana dikutip KompasTekno dari The Guardian, Selasa (27/3/2018).

Baca juga: Christopher Wylie, Mahasiswa Pengungkap Kebocoran Data Pengguna Facebook

Dalam cetak biru ini terungkap bahwa firma Cambridge Analytica melakukan beberapa metode, yakni penelitian, survei intensif, pemodelan data, serta mengoptimalkan penggunaan alogaritma untuk menargetkan sebanyak 10.000 iklan berbeda pada audiens.

Praktik ini kemudian dilakukan pada audiens yang berbeda-beda sesuai data diri mereka dan dilakukan dalam bulan-bulan menjelang pemilihan 2016 silam.

Dalam dokumentasi yang dipresentasikan beberapa minggu setelah Trump dinyatakan terpilih ini, tercatat bahwa iklan kampanye yang disebar tersebut telah dilihat sebanyak miliaran kali oleh para calon pemilih.

Contoh pengoptimalan algoritma, berita negatif ditampilkan ke pemilih potensial Hillary Clinton, pesaing Trump di Pilpres AS 2016 lalu.The Guardian Contoh pengoptimalan algoritma, berita negatif ditampilkan ke pemilih potensial Hillary Clinton, pesaing Trump di Pilpres AS 2016 lalu.
"Ada permintaan dari orang-orang di lingkaran perusahaan untuk tahu bagaimana kami melakukannya. Semua orang ingin tahu, baik itu klien lama maupun klien potensial. Tentu kami bisa saja menunjukkannya pada orang yang telah menandatangani persetujuan," ungkap Kaiser.

Kaiser menambahkan, ia sendiri tidak terlibat secara langsung dalam kampanye pemenangan Trump. Namun, beberapa kali ia pernah mengatur pertemuan di antara para petinggi untuk membicarakan hal ini.

Reputasi firma analisis data Cambridge Analytica ini memang cukup baik di antara para politikus. Firma ini dianggap mampu mendongkrak popularitas positif saat masa-masa kampanye berjalan.

Dalam kerjanya, pihak Cambridge Analytica juga bertugas memantau efektivitas pesan serta iklan pada berbagai jenis pemilih. Kemudian si klien pun diberikan masukan dari kampanye yang tengah berjalan baik itu di Facebook maupun platform lain.

Hasil umpan balik atau feedback ini kemudian digunakan lagi untuk mengoptimasi alogaritma penyebaran data agar kampanye yang dilakukan lebih optimal. Feedback ini digunakan untuk mengirim ribuan iklan lain pada calon pemilih bergantung profilnya.

Baca juga: Pencurian Data Facebook, DPR Minta Kominfo Segera Setor Draf UU PDP

Selain Facebook, Kaiser juga mengungkapkan bahwa Trump juga menggunakan platform lain untuk berkampanye, seperti Snapchat dan Twitter. Meski demikian, ia tidak menyebutkan dengan lebih detail bagaimana tim pemenangan Trump memanfaatkan semua platform ini.

Beberapa hari lalu, Cambridge Analytica dikabarkan memegang lebih dari 50 juta data akun pengguna Facebook.

Cambridge Analytica diduga memperoleh data pengguna Facebook dari peneliti pihak ketiga bernama Aleksandr Kogan. Ia bekerja di Global Scicence Research dan kerap menghadirkan survei terkait kepribadian yang tersebar masif di Facebook.

Data ini diduga digunakan oleh tim kampanye Trump sebagai langkah pemenangan saat Pilpres 2016 lalu.



Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Close Ads X