Dilombakan di Asian Games 2018, E-Sport Bakal Lebih Populer di Indonesia

Kompas.com - 25/05/2018, 08:35 WIB
Marketing Director, Intel ANZ & South East Asia, Anna Torres (kedua dari kanan) dalam sesi tanya jawab ke media Intel IndonesiaMarketing Director, Intel ANZ & South East Asia, Anna Torres (kedua dari kanan) dalam sesi tanya jawab ke media

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Meski perkembangannya disebut cukup pesat di Indonesia, game elektronik alias e-sport nyatanya kurang populer di telinga awam.

Masuknya e-sport untuk pertama kalinya sebagai salah satu cabang olahraga di Asian Games 2018 yang akan berlangsung Agustus nanti, diharapkan mampu menjadi katalis bagi perkembangan industri e-sport di Indonesia.

"Dengan membawa e-sport ke Asian Games akan membuatnya lebih awam di Indonesia," jelas Marketing Director Intel ANZ & East Asia, Anna Torres dalam workshop karir yang berlangsung di Universitas Negeri Yogyakarta, Kamis (24/5/2018).

Menurut Anna, popularitas e-sport di Indonesia memiliki peluang untuk sejajar dengan beberapa negara tetangga, seperti Thailand dan Filipina. Negara-negara tersebut selangkah lebih maju soal e-sport, khususnya dalam pengelolaan dan infrastruktur.

" Gaming di Indonesia selalu berkembang, bahkan di Indonesia kita sudah mulai ada kompetisi yang diadakan secara lokal," imbuhnya.

Setali tiga uang, pengamat gaming dan e-sport, Deddy Irvan juga berpendapat jika konotasi negatif tentang e-sport di Indonesia akan luntur perlahan setelah resmi menjadi salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan di Asian Games. Apalagi nanti jadi ikut serta dalam Olimpiade 2024 mendatang.

E-sport yang berangkat dari gaming, saat ini masih dianggap "tabu" untuk sebuah profesi di Indonesia.

"Ini sudah sampai Olimpiade, lho. Sementok-mentoknya cabang olahraga itu kalau sudah sampai Olimpiade, sudah paling tinggi pencapaiannya," ujarnya.

Ke depannya, e-sport diramalkan akan semakin pesat, karena pesta olahraga Olimpiade diharap lebih relevan dengan kaum milenial di masa mendatang.

Jika dibandingkan secara infrastruktur, Indonesia masih jauh dibanding beberapa negara Asia yang dikenal sebagai grup neraka kompetisi eSport dunia.

Baca juga: Nvidia Bangun Warnet Game iCafe Dukung Ekosistem eSport Indonesia

Namun setidaknya, menurut Dedy, kesempatan untuk berkompetisi di ajang internasional sudah terbuka lebar melalui induk organisasi yang menaungi e-sport di Indonesia, yakni IeSPA (Indonesia eSport Association) yang dibentuk tahun 2014 lalu.

"IeSPA menjadi pintu awal e-sport masuk ke Asian Games, sekarang lagi banyak perekrutan atlet yang akan mencoba eksibisi e-sport di Asian Games," jelas Dedy ketika ditemui KompasTekno.

Industri gaming di Indonesia sendiri menduduki peringkat ke-16 pada tahun 2017, menurut data dari Newzoo. Sumber daya manusianya pun tak bisa dikatakan sedikit, tercatat anggota gamer di Indonesia mencapai 43,7 juta dengan pendapatan dari game sebesar 879,7 juta dollar AS.

Baca juga: Telkomsel Jawab Keluhan Pemain Game Mobile Legends

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X