Menguak Perang Siber dalam Pilpres AS dan Cara Menghadapinya Halaman 1 - Kompas.com
kolom

Menguak Perang Siber dalam Pilpres AS dan Cara Menghadapinya

Kompas.com - 22/10/2018, 09:14 WIB
Cambridge AnalyticaGetty Images Cambridge Analytica


Catatan Damar Juniarto yang selama 21 hari mengikuti Visitor Leadership Program (IVLP) 2018 bertema Cyber Policy and Online Freedom of Expression di Amerika Serikat.

 

DARI terbongkarnya cara kerja Cambridge Analytica dan penggunaan peretas dari Rusia, publik akhirnya paham bahwa penguasaan data pengguna online adalah hal yang terpenting dalam memenangkan perang politik di Amerika.

Di tangan Cambridge Analytica, data dari 270.000 pengisi survei di thisisyourdigitallife apps didulang sehingga bisa mendapatkan data dari 87 juta orang lain yang terhubung dengan responden survei.

Data tersebut kemudian diklasifikasikan berdasarkan profil psikologis dan preferensi politik sehingga dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam menyusun strategi kampanye pemenangan di pemilu AS 2016.

Mereka pendukung Trump, pro-Hillary, swing voters, warga miskin kulit putih, warga Afro-American, komunitas warga Hispanik, dan setiap kluster psikologis, dikirimi iklan-iklan politik yang berbeda, seringkali berisi fake news, agar pada akhirnya menggiring mereka untuk memilih Donald Trump.

Sejak perang siber politik ini mencuat, saya terus mengikuti perkembangan bagaimana kekuatan politik memersenjatai media sosial demi kemenangan politik.

Itulah sebabnya, saat saya sampai di kota berangin Chicago dua pekan lalu, saya segera mencari buku baru yang sedang ramai diperbincangkan terkait perang siber dan keterlibatan peretas Rusia.

Buku berjudul Cyberwar: How Russian Hackers and Trolls Helped Elect a President—What We Don’t, Can’t, and Do Know  karya Kathleen Hall Jamieson membeberkan analisis forensik dari bukti-bukti yang ada di media sosial Amerika Serikat dan menyimpulkan bahwa Rusia sangat mungkin berkontribusi bagi kemenangan Donald Trump.

Kathleen Hall Jamieson adalah akademisi politik terkemuka dan profesor komunikasi di University of Pennsylvania. Selama 40 tahun terakhir, ia telah memelajari komunikasi politik: debat, iklan, dan pidato.

Sebagai buntut dari pemilihan presiden 2016, dia mempelajari efek yang diperdebatkan antara Donald Trump dan Hillary Clinton terhadap pemilih.

Itu membuat Jamieson menyusuri jalan yang membawanya ke sebuah kesimpulan yang berani: Rusia memang sengaja memenangkan Trump demi kepentingan negaranya.


Page:

Close Ads X