Startup Indonesia Disebut Cepat Mati Karena Minim Arahan

Kompas.com - 08/11/2018, 14:54 WIB
Ignatius Untung, Ketua Umum IdEA KOMPAS.com/ GITO YUDHA PRATOMOIgnatius Untung, Ketua Umum IdEA
|
Editor Oik Yusuf

KOMPAS.com - Indonesia menjadi salah satu negara dengan jumlah perusahaan rintisan alias startup terbanyak di dunia. Bahkan menurut data dari Startup Ranking, startup Indonesia menduduki peringkat keempat terbesar di dunia dalam hal ini

Meski jumlah startup yang lahir terbilang besar, tak sedikit yang usianya hanya seumur jagung. Hanya lahir, kemudian mati dalam waktu yang singkat.

Ketua Umum Asosiasi e-Commerce Indonesia ( idEA), Ignatius Untung mengomentari fenomena ini. Menurut dia, Indonesia memang memiliki banyak ide untuk membuat startup namun tidak cermat dalam mengeksekusinya.

Ignatius mengatakan, ada beberapa faktor yang menyebabkan banyak startup Indonesia berguguran. Salah satunya adalah minimnya mendapat kesempatan arahan alias mentoring dari orang yang lebih berpengalaman dalam bidang terkait.

Baca juga: Jack Ma AKan Didik Talenta Startup Indonesia di Kampus Alibaba

"Banyak pelaku startup adalah orang-orang yang tidak punya pengalaman kerja. Artinya belum tahu bagaimana menjalankan bisnis. Akhirnya gagal di tengah jalan," ungkap Ignatius dalam acara perkenalan program IdEA Works di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Kamis (8/11/2018).

Ia melanjutkan, selain minim kesempatan mentoring, faktor kedua yang menyebabkan startup cepat mati adalah kualitas dari founder atau pendiri startup tersebut.

Founder harus dapat menentukan ke mana arah bisnis akan berjalan, dari sinilah startup akan bisa hidup dan bertahan.

"Mentoring itu sebenarnya bisa gagal bisa juga tidak. Contohnya pendiri Tokopedia, meski dia tidak punya pengalaman kerja yang 'wah', bisnisnya bisa sebesar ini," lanjutnya.

Baca juga: Menkominfo Jagokan Startup Fintech Sebagai Unicorn Berikutnya

Selain itu, Ignatius juga melihat bahwa kondisi startup di Indonesia lebih terfokus pada angka berapa startup yang dilahirkan, bukan berapa jumlah startup yang dapat bertahan.

Ini juga didorong oleh faktor euforia, di mana banyak orang ikut membuat startup tapi tak memahami rantai bisnis yang membuat startup bisa bertahan.

"Startup banyak yang berumur pendek saya akui itu betul. Ini karena euforia. Banyak juga investor yang euforia. Salah satunya karena mereka melihat bonus demografi dan memandang semua startup bagus, padahal belum tentu," pungkasnya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X