Struktur Perusahaan Go-Jek Terungkap dari Bocoran Dokumen

Kompas.com - 27/11/2018, 12:32 WIB
Kantor Go-Jek IndonesiaReska K. Nistanto/KOMPAS.com Kantor Go-Jek Indonesia

KOMPAS.com — Sejak pertama kali didirikan pada 2010, perusahaan teknologi ride sharing Go-Jek telah berkembang menjadi salah satu startup unicorn (valuasi di atas 1 miliar dollar AS) di Indonesia.

Setelah melewati sejumlah sesi pendanaan yang meraup dana triliunan rupiah dengan melibatkan berbagai investor beken seperti Google, Tencent, JD, hingga Astra dan GDP Venture, belum banyak yang mengetahui struktur internal Go-Jek.

Belakangan, beredar bocoran informasi dari firma konsultasi investasi Momentum Works soal itu. Dokumen tersebut berasal dari berkas-berkas yang diserahkan Go-Jek dalam proses sesi pendanaan terkini. 

Informasi dari Momentum Works membeberkan sebagian komposisi dewan direksi dan dewan komisaris Go-Jek, berikut beberapa pemegang sahamnya.

Susunan dewan direksi

Menurut keterangan Momentum Works yang dihimpun KompasTekno dari Deal Street Asia, Selasa (27/11/2018), CEO sekaligus pendiri Go-Jek, Nadiem Makarim, duduk di kursi dewan direksi bersama enam orang lain yang sebagian besar merupakan koleganya.

Nadiem disebutkan memiliki 58.416 lembar saham atau 4,81 persen dari total saham Go-Jek. Ia merupakan individu pemegang saham terbesar di perusahaan.

Baca juga: Go-Jek Tanggapi Rumor Struktur Perusahaan dan Kepemilikan Saham

Selain Nadiem, anggota dewan direksi termasuk Chief Information Officer Go-Jek, Kevin Aluwi,  memegang 205 lembar saham. Kevin pernah bekerja dengan Nadiem di e-commerce Zalora pada 2012.

Dewan direksi juga diisi Presiden Direktur Go-Jek Andre Soelistyo. Andre bergabung pada 2016 dari firma investasi Northstar Group yang berinvestasi di Go-Jek pada 2015 dan pernah bekerja di startup fintech Kartuku. Go-Jek mengakuisisi Kartuku pada 2017.

Kemudian, ada Chief Commercial Officer Antoine de Carbonnel yang memegang 1.923 lembar saham. Seperti Andre, Carbonnel juga bergabung pada 2016 dan pernah menjadi presiden direktur di Kartuku.

Tiga anggota dewan direksi lainnya adalah Hans Patuwo yang merupakan principal firma konsultasi McKinsey tempat Nadiem sempat bekerja selama tiga tahun, serta Monica Lynn Mulyanto dan Thomas Kristian Husted. Ketiganya tidak memiliki saham di Go-Jek.

Susunan dewan komisaris

Selain di dewan direksi, menurut informasi dari Momentum Works, Nadiem juga menduduki kursi dewan komisaris sebagai ketua.

Ada sembilan anggota di dewan komisaris—termasuk Nadiem—yang bertindak sebagai perwakilan para investor besar.

Anggota dewan komisaris Go-Jek mencakup Presiden Direktur Astra International Prijono Sugiarto, Direktur Toba Bara Pandu Patria Sjahrir, CEO Blili.com dan COO GDP Venture, Kusumo Martanto.

Kemudian ada Managing Director and Head of Southeast Asia Warburg Pincus Jeffrey Perlman, George Raymond Zage III dari Farallon Capital Asia, Principal Capital Group  Hotak Chow, Zhahui Li dari Tencent Investment, dan Direktur Temasek Pradyumna Agrawal.

Baca juga: Investasi Baru, Valuasi Go-Jek Disebut Bisa Tembus Rp 137 Triliun

Sesuai dengan ketentuan perseroan terbatas di Indonesia, Go-Jek memiliki struktur organisasi yang terdiri dari pemegang saham, dewan komisaris, dan dewan direksi.

Dewan direksi Go-Jek bertanggung jawab atas manajemen dan operasional perusahaan. Sementara dewan komisaris melakukan pengawasan terhadap pengurusan perusahaan oleh dewan direksi.

Tanggung jawab lain dari dewan komisaris termasuk meninjau rencana kerja dewan direksi, dan menyusun laporan tahunan untuk rapat pemegang saham. Ada juga kewenangan untuk menentukan remunerasi dan memberhentikan anggota dewan direksi.

KompasTekno telah meminta tanggapan Go-Jek mengenai informasi dari Momentum Works di atas, namun belum memperoleh keterangan.

Soal pendanaan yang didapat Go-Jek, dalam sesi pendaan terkini yang diinisiasi pada Oktober 2018, Go-Jek disinyalir bakal mendapat kucuran dana segar antara 1,5 miliar hingga 2 miliar dollar AS.

Sesi pendanaan itu membuat valuasi Go-Jek diprediksi bakal ikut terdongkrak menjadi sekitar 10 mililar dollar AS, atau lebih dari Rp 145 triliun.



Close Ads X