Indonesia Disebut Masih “Mentah” dalam Adopsi AI untuk Industri

Kompas.com - 31/01/2019, 16:53 WIB
Ilustrasi Industri 4.0SHUTTERSTOCK Ilustrasi Industri 4.0

JAKARTA, KOMPAS.com - Artificial Intelligence ( AI) alias kecerdasan buatan diprediksi akan menjadi salah satu pilar dalam kegiatan bisnis oleh para pelaku industri. AI berpotensi membuat bisnis lebih efisien, bahkan menelurkan peluang kerja baru.

Namun, menurut Head of Operation firma riset IDC, Mevira Munindra, adopsi teknologi AI dalam bidang industri di Indonesia bakal memakan waktu yang cukup lama.

Menurut Mevira, jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga, Indonesia masih sangat "hijau" alias mentah dalam adopsi teknologi AI untuk industri. Namun ia melihat Indonesia jadi salah satu negara yang diperhitungkan di ASEAN untuk disuntik investasi dalam hal ini.

Baca juga: Pentingnya Undang-undang Perlindungan Data Pribadi dalam Industri 4.0

Ia memprediksi, para pelaku Industri di Tanah Air butuh lebih dari 5 tahun untuk mengadopsi Artificial Intelligence (AI) dengan dengan matang. Menurut Mevira, masih ada langkah yang perlu dilakukan pelaku industri di Tanah Air untuk bisa mengadopsi AI secara sempurna.

"Kalau AI atau machine learning yang utama adalah data. Kemudian yang harus dilihat lagi bagaimana perusahaan itu memperoleh data," kata Mevira dalam acara pemaparan prediksi teknologi dan transformasi digital tahun 2019 di kawasan Jakarta Selatan, Kamis (31/1/2019).

"Kalau kami lihat, secara observasi, belum banyak perusahaan di Indonesia yang mempunyai data warehouse dan data capabilities. Itu langkah yang harus diperbaiki dulu oleh perusahaan untuk masuk ke arah sana," lanjutnya.

Baru chatbot, kendala regulasi

Mevira menambahkan, sejauh ini para pelaku industri Tanah Air baru memanfaatkan AI sebagai fitur chatbot dan belum sampai pada tahap prediktif hingga machine learning. Ia juga menyoroti masalah regulasi yang ada di Indonesia terkait teknologi ini.

Baca juga: 2019, Industri Indonesia Diprediksi Belanja Rp 465 Triliun untuk ICT

"Adopsinya masih lebih dari 5 tahun. Kita adopsi cloud saja sekitar 5 tahun. Machine learning itu kita masih butuh proses dan salah satu kendalanya memang masalah regulasi. Tidak semudah itu juga kita bisa langsung bertransformasi," katanya.

“Ketika Singapura sudah membahas blockchain dan AI, kita masih membahas cloud," imbuh Mevira.

Kendati demikian, Mevira menilai pemanfaatan kecerdasan buatan oleh pelaku industri di Tanah Air sudah menuju arah yang tepat. Kebanyakan pelaku usaha sudah memiliki digital frame dan tinggal mencoba untuk implementasinya.

"Seperti contohnya toko milik JD.id yang baru dibuka. Toko tanpa kasir," pungkasnya.



Close Ads X