Huawei Disebut Bakal Melisensikan Desain Ponsel untuk Mengakali Sanksi AS

Kompas.com - 16/11/2021, 10:29 WIB
Ilustrasi Huawei IstimewaIlustrasi Huawei

KOMPAS.com - Bisnis ponsel Huawei terseok-seok sejak masuk daftar hitam (entity list) pemerintahan Amerika Serikat (AS) pada 2019. Sebab, pabrikan asal China itu jadi tak bisa menggunakan teknologi penting seperti layanan-layanan Google di produknya.

Kabar terbaru yang beredar menyebutkan bahwa Huawei berusaha mengakali sanksi AS ini dengan cara elisensikan desain ponsel miliknya kepada perusahaan pihak ketiga.

Menurut sumber yang dekat dengan masalah ini, Huawei tengah mempertimbangkan untuk melisensikan desain ponsel miliknya ke Xnova, salah unit usaha milik negara, yakni China Postal and Telecommunications Appliances Co (PTAC).

Xnova sendiri dikabarkan sudah menjual ponsel Nova bermerek Huawei di situs markeplace miliknya. Kemitraan dengan Huawei kabarnya bakal memungkinkan Xnova membuat ponsel di bawah mereknya sendiri, namun dengan menggunakan desain ponsel dari Huawei.

Baca juga: Setelah Huawei, Pemerintah AS Incar Honor untuk Di-blacklist

Di samping itu, pembuat peralatan telekomunikasi China, TD Tech Ltd juga dilaporkan akan menjual beberapa ponsel yang menggunakan desain ponsel Huawei di bawah mereknya sendiri.

Para engineer Huawei disebut sedang meyesuaikan desain ponsel agar bisa dipasangi chip buatan pihak lain seperti Qualcomm dan MediaTek, alih-alih chip Kirin bikinan HiSilicon (anak usaha Huawei) yang selama ini biasa dipakai. 

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dengan kemitraan berbentuk lisensi desain ponsel tersebut, kabarnya angka pengiriman ponsel Huawei diharapkan dapat terdongkrak hingga lebih dari 30 juta unit di tahun 2022 mendatang.

Lini Mate 30 menjadi seri ponsel pertama dari Huawei yang tidak memiliki layanan dan aplikasi Google. Hal tersebut menjadi batu sandungan besar bagi perangkat yang sebenarnya memiliki spesifikasi mumpuni dan kaya fitur ini.  KOMPAS.com/ OIK YUSUF Lini Mate 30 menjadi seri ponsel pertama dari Huawei yang tidak memiliki layanan dan aplikasi Google. Hal tersebut menjadi batu sandungan besar bagi perangkat yang sebenarnya memiliki spesifikasi mumpuni dan kaya fitur ini.

Semenjak sanksi AS diberlakukan di masa Presiden AS Donald Trump, Huawei kehilangan akses ke sejumlah mitra teknologi penting. Selain Google, Huawei juga tak bisa bekerja sama dengan pabrikan chip Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) dan Qualcomm.

Nasib Huawei di bawah pemerintahan baru Presiden Joe Biden belum memperlihatkan tanda-tanda perubahan, alias belum bakal dikeluarkan dari daftar entity list yang menjerat perusahaan selama dua tahun terakhir.

Dimasukkannya Huawei ke dalam daftar entity list membuat perusahaan AS tidak diperbolehkan melakukan transaksi dengan Huawei -termasuk jual-beli komponen dan software- tanpa persetujuan pemerintah AS.

Baca juga: Joe Biden Bikin Huawei dan ZTE Makin Merana

Halaman:


Sumber TechSpot
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.