Turbulensi Pesawat Etihad Begitu Hebat, Mengapa Bisa Terjadi? - Kompas.com
kolom

Turbulensi Pesawat Etihad Begitu Hebat, Mengapa Bisa Terjadi?

Reska K. Nistanto
Kompas.com - 05/05/2016, 14:37 WIB
Andri Donnal Putera (Istimewa) Kondisi dalam kabin pesawat Etihad Airways EY 474 Abu Dabhi-Jakarta yang mengalami turbulensi di udara, 30 menit sebelum mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, Rabu (4/5/2016).

Rabu (4/5/2016), pesawat Airbus A330-200 Etihad Airways penerbangan EY474 rute Abu Dhabi - Jakarta mengalami turbulensi di udara. Insiden terjadi 45 menit sebelum mendarat di Bandara Soekarno-Hatta.

Menurut pihak Etihad, sebanyak 31 penumpang dan awak kapal terluka akibat turbulensi yang terjadi selama kurang lebih 10 menit itu. Foto-foto dan video yang beredar di jejaring sosial menunjukkan kondisi kabin EY474 yang berantakan. (Baca: Korban Turbulensi Pesawat Etihad Alami Patah Tulang hingga Memar di Kepala)

Sebelumnya, hal yang sama juga dialami oleh B777 Thai Airways nomor penerbangan TG434 rute Jakarta - Bangkok pada April lalu. Seorang penumpang dan awak kabin dilaporkan cidera akibat terbentur langit-langit kabin.

Baca: Foto Kondisi Thai Airways Pasca-turbulensi Tersebar di Internet

Facebook/Mirror Inilah suasana kabin penumpang pesawat Thai Airways penerbangan TG434 jurusan Jakarta-Bangkok yang terkena turbulensi di wilayah udara Singapura.
Sebagian dari kita yang sering melakukan perjalanan udara pasti pernah mengalami guncangan-guncangan di sepanjang perjalanan. Namun kenapa guncangan yang dialami EY474 dan TG434 ini sedemikian hebatnya?

Untuk mencari tahu jawaban tersebut, pertama-tama kita harus mengetahui mengapa turbulensi bisa terjadi dan apa saja jenis-jenis turbulensi itu.

Turbulensi terjadi manakala pesawat yang bergerak di udara, memasuki ruang udara yang memiliki tekanan yang berbeda-beda.

Perbedaan tekanan udara itu bisa disebabkan oleh macam-macam hal, misal perpindahan dari suhu udara panas ke dingin (dan sebaliknya), memasuki aliran udara yang berkecepatan berbeda, atau karena memasuki thermal lift, yaitu ruang udara yang memiliki suhu lebih panas dari sekelilingnya, yang mengalir dari permukaan ke atas.

Selain karena suhu dan tekanan yang berbeda-beda, turbulensi bisa juga disebabkan oleh pola arus angin yang berubah-ubah.

Arus angin horisontal yang "ditunggangi" pesawat yang tadinya mengalir secara lancar bisa menjadi kacau saat menemui obstruksi di permukaan, seperti bukit, gunung, gedung-gedung, dan sebagainya.

Turbulensi berdasar intensitas

Dari intensitasnya, turbulensi di udara dibagi menjadi empat kategori, mulai dari level 1 yang ringan, level 2 moderat, level 3 parah, dan level 4 yang ekstrim.

Dalam tubulensi level 1, hanya terasa guncangan-guncangan kecil saja. Penumpang yang memakai sabuk pengaman mungkin merasakan tarikan kecil di pinggang. Obyek di dalam pesawat yang ditaruh tanpa pengamanan juga akan bergoyang atau bergeser sedikit.

Di level 2 (moderat), intensitasnya lebih tinggi lagi, akselerometer di dalam pesawat bisa membaca perubahan sekitar 0,5 hingga 1G (G= gravity). Sementara di sisi penumpang, tarikan sabuk pengaman akan sangat terasa. Benda yang ditaruh tanpa pengaman bisa berpindah tempat.

Dalam turbulensi intensitas di level 3 atau yang termasuk dalam kategori parah, perubahan pusat gravitasi di pesawat lebih dari 1G. Penumpang bisa sampai terlempar dari kursi pesawat jika tidak menggunakan sabuk pengaman.

Di kokpit, bisa jadi ada perubahan pembacaan di indikator kecepatan udara. Sikap dan ketinggian pesawat juga akan banyak berubah-ubah dan pesawat tidak terkontrol dalam beberapa waktu.

Di level 4, atau yang termasuk dalam kategori ekstrim, turbulensi bisa menyebabkan pilot kehilangan kontrol, dan sulit untuk recovery.

Turbulensi tak terdeteksi

Kembali ke kasus Etihad EY474 dan Thai Airways TG434 di atas tadi, turbulensi yang terjadi dalam pesawat tersebut berdasar keterangan saksi penumpang, terjadi secara tiba-tiba.

"Enggak ada angin enggak ada apa, badan saya ini langsung ke angkat ke atas, kebanting berkali-kali, kepala kena atap sampai kayak mau bolong," kata Lita Herlita (42), salah seorang jemaah umroh sekaligus penumpang pesawat itu.

Keterangan penumpang itu bisa menjadi petunjuk atas peristiwa clear air turbulence (CAT), jenis turbulensi yang susah dideteksi dan terjadi secara tiba-tiba.

Baca: Penjelasan Etihad soal Turbulensi Sebelum Mendarat di Bandara Soekarno-Hatta

Turbulensi yang terjadi secara tiba-tiba biasanya terjadi di luar prediksi pilot. Ya, pilot di dalam kokpit bisa memprediksi apakah akan ada guncangan di depan dengan bantuan radar cuaca. Mereka bisa melihat gumpalan-gumpalan awan yang berpotensi menyebabkan turbulensi.

Biasanya, jika diizinkan oleh petugas pengendali lalu-lintas udara (ATC), mereka akan menghindari dengan meminta rute yang sedikit menyimpang, atau melompatinya.

Jika tidak bisa dihindari, maka terpaksa mereka akan menembus awan tersebut, dan mengingatkan awak kabin dan penumpang untuk duduk dan memakai sabuk pengaman.

Itulah sebabnya Anda sering diminta untuk duduk dan mengenakan sabuk pengaman meski penerbangan terasa biasa-biasa saja.

Namun, ada jenis turbulensi yang sama sekali tidak terdeteksi oleh radar cuaca, jenis turbulensi ini disebut dengan clear air turbulence (CAT), turbulensi yang terjadi dalam kondisi cerah. Secara visual, pilot tidak bisa mengidentifikasinya.

CAT sering terjadi di area Tropopause, ruang udara antara Troposhere dan Stratosphere, yaitu ketinggian antara 23.000 - 39.000 kaki (7.000 - 12.000 meter) di atas permukaan laut.

ist Lapisan Tropopause di antara Troposphere dan Stratosphere.
Lapisan Tropopause ini tidak konstan atau rata secara horisontal. Perubahan temperatur dan kecepatan angin yang bergerak di antaranya membuat ketinggian lapisan itu fluktuatif.

Sementara di sisi lain, pesawat udara terbang di ketinggian yang konstan dalam waktu yang lama. Pesawat membutuhkan kepadatan udara yang konstan agar bisa terbang dengan stabil.

Nah, saat memasuki area Tropopause yang ketinggian lapisannya fluktuatif itulah, CAT bisa terjadi.

Pesawat seperti tersedot dari ruang udara berkepadatan tinggi ke rendah, akibatnya ketinggian jelajah bisa anjlok.


MCT Ilustrasi clear air turbulence yang terjadi saat pesawat berpindah ke arus udara (jet stream) yang memiliki kecepatan dan suhu berbeda.
Penumpang di dalam pesawat yang tidak menggunakan sabuk pengaman bisa terlempar ke udara dan berisiko cedera akibat membentur langit-langit kabin atau terbanting ke lantai kabin.

Turbulensi bisa jatuhkan pesawat?

Dalam satu kasus, jika turbulensi terjadi di ketinggian pesawat yang rendah relatif terhadap permukaan bumi (saat takeoff/landing) bisa berakibat fatal.

Turbulensi yang terjadi dalam ketinggian dan kecepatan rendah ini disebut dengan windshear/microbursts.  Sama dengan CAT, jenis turbulensi seperti ini susah untuk dideteksi.

Karena terjadi di ketinggian yang rendah, pilot hanya memiliki waktu yang singkat untuk melakukan manuver recovery. Jika manuver tidak berhasil, atau lambat dilakukan, akibatnya pesawat bisa terbanting ke permukaan.

Salah satu contoh kecelakaan yang disebabkan oleh windshear adalah Delta Air Lines Penerbangan 191 pada 2 Agustus 1985 di Florida, AS.

Teknologi untuk mengantisipasi

Sulit untuk mendeteksi CAT bagi pilot yang menerbangkan pesawat, karena instrumen di kokpit, seperti radar cuaca saja tidak cukup.

Radar cuaca yang menggunakan dopler memang bisa mendeteksi awan dan kepadatannya, namun dalam kasus CAT, tidak ada kondensasi udara di dalamnya, dengan demikian, radar dopler tidak bisa menangkapnya.

Jika ada peranti yang mampu memprediksi CAT, maka itu adalah radar LIDAR (Light and RADAR), teknologi yang menggunakan cahaya alih-alih gelombang radio untuk mengukur posisi dan kecepatan angin. Namun alat ini jarang dipasang di pesawat-pesawat komersil.

Nasa Peranti LIDAR yang diuji coba dalam pesawat diharapkan bisa memberi peringatan jika di depan ada ruang udara yang berpotensi menyebabkan clear air turbulence.
Salah satu patokan yang dipakai oleh pilot untuk waspada terhadap CAT adalah awan cirrus tipis yang menggantung.

Dengan melihat pola awan cirrus di atas, melihat arah ujung awannya menuju, bisa dijadikan patokan tidak resmi untuk menebak arus jet stream.

Selain teknologi radar, pabrikan pesawat kini juga mengembangkan teknologi sayap pesawat yang bergerak aktif untuk menstabilkan pesawat (gust alleviation system), sehingga mengurangi efek guncangan saat terjadi turbulensi.

Namun tetap saja, jika sudah dihadapkan dengan clear air turbulence (CAT), satu-satunya cara untuk mengantisipasi risiko cidera jika terjadi adalah dengan mengurangi aktivitas di atas pesawat tanpa mengenakan sabuk pengaman.

Dengan kata lain, tetap duduk dan kenakan sabuk pengaman.

EditorReza Wahyudi
Komentar
Close Ads X