Mau Beli TV Layar Datar, Takutnya Gampang Rusak... - Kompas.com
BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Panasonic

Mau Beli TV Layar Datar, Takutnya Gampang Rusak...

Dimas Wahyu
Kompas.com - 28/06/2017, 08:17 WIB
AndreyPopov ilustrasi televisi

 

KOMPAS.com — Memasang TV layar datar yang menempel mulus di dinding tempat tinggal kini bisa menjadi pilihan gaya yang modern bagi siapa pun, apalagi di musim kebagian tunjangan hari raya (THR) Lebaran tahun 2017 ini.

Harga TV itu kian hari kian terjangkau, sementara ketebalannya yang hanya tinggal hitungan sentimeter membuat kita seleluasa mungkin menyaksikan dunia dalam layar datar dengan perangkat yang tidak lagi makan tempat dibanding 10-20 tahun lalu.

TV layar datar bisa punya bentuk super-simpel seperti itu bukan tanpa keringat, setidaknya sudah sejak 60 tahun lalu ketika William Ross Aiken, yang menurut majalah Popular Mechanics edisi Januari 1958, membuat model awal layar itu untuk keperluan militer.

Namun, di Indonesia, surat-surat pembaca harian Kompas, misalnya, berisikan berbagai keluhan seputar TV layar datar selama tahun 2007 hingga 2013 lalu. Masalah yang sama pun sering dibahas di berbagai forum dunia.

Khusus untuk surat pembaca di harian Kompas, keluhan-keluhan itu berkutat di urusan LCD yang sudah rusak padahal baru dipakai sekian bulan (di surat pembaca 5 Desember 2007, 3 April 2008, 18 September 2009, dan 2 Maret 2010), lalu masalah gambar di layar LCD goyang-goyang (29 Januari 2008), board LCD rusak (surat pembaca 16 Februari 2013), hingga masalah TV plasma (19 Juli 2013).

Penyebab rusak

Memang, TV layar datar sudah berevolusi puluhan tahun tetapi sebenarnya baru benar-benar beredar di masyarakat pada pertengahan tahun 2000.

Sebelum masa itu, TV yang beredar di masyarakat adalah model layar cembung dengan "konde" di belakangnya.

Teknologi baru TV layar datar pun tidak muncul secara mulus karena butuh perkembangan lanjutan. Tidak heran, sejumlah produk terkesan "gagap", demikian halnya dengan masyarakat yang menjadi penggunanya.

"Jika kita pereteli satu per satu, Anda mungkin akan kaget betapa banyaknya komponen yang dijejali dalam satu wadah yang lebarnya cuma 15 cm," kata Dave Maltz, pemilik gerai Dave's TV Repair di Oregon, Amerika Serikat, di consumeraffairs.com dalam artikel "Whats Wrong with Flat Screen TVs".

Ruang kerja komponen TV yang sedemikian mungil otomatis menyebabkan area tersebut panas. Oleh sebab itu pula, ada semacam proses pendinginan menggunakan kipas, yang tanpa disadari bisa terganggu juga jika terkena efek dari luar, misalnya asap rokok, seperti yang terjadi di Sunderland, Inggris.

"Saat dicek, bau asap rokok masih tercium. Sisa asap rokok yang masuk kemudian mengendap, di samping juga menyelimuti panel," ujar pihak salah satu produsen TV yang mendapatkan keluhan konsumen, yang kemudian diketahui sebagai perokok berat.

Thinkstockphotos Ilustrasi

Asap rokok itu mengendap di bilah kipas pendingin sehingga susah dihilangkan. Akibatnya, kerja kipas terhambat, bahkan menyebabkannya mati, seperti dipaparkan dalam "Sunderland Smoker Who Ruined His Telly Hits Back at Critics" di Sunderlandecho.com, yang pada kisaran April 2016 itu juga dibahas di Mirror.co.uk dan Dailymail.co.uk.

Situasinya mungkin memang tidak sesiap jika TV-TV semacam ini dipasang di klub, kafe, yang menjadi tempat banyak orang merokok, tetapi punya kipas hisap atau exhaust fan sehingga asap rokoknya bisa ditarik keluar.

Selain soal asap rokok, warna rusak di layar, dan embel-embel "rusak gara-gara kebanyakan dipakai main game" juga umum terjadi di TV LCD dan plasma.

LCD sendiri merupakan singkatan dari liquid crystal diode yang artinya memanfaatkan layar yang tersusun dari sel-sel kristal cair dalam tiap piksel dengan tiga warna dasar merah, hijau, biru atau red, green, blue (RGB). Warna dalam piksel itu muncul berkat lapisan cahaya dari belakangnya, berdasarkan aliran listrik yang dikontrol.

Jika ada kesalahan pada aliran listrik ke piksel, maka piksel itu bisa menjadi hitam saja. Alhasil, ada bagian sudut TV yang menghitam atau sebaliknya, seperti dijelaskan dalam Cnet.com lewat artikel "Addressing Common Problems with LCD Displays".

Misalnya saja, ada layar yang seakan memerah ibarat luntur atau terbakar, atau juga bayangan logo stasiun TV yang tidak bisa hilang di ujung layar, padahal sudah ganti saluran TV.

Masalah seperti itu terjadi ketika kita terlalu lama menyalakannya, misalnya menyalakan terus saluran TV yang sama, contohnya tayangan berita 24 jam.

Penjelasan yang juga dipaparkan dalam artikel "Why do Images Get Burned into LCD and Plasma Displays and How You Can Fix It" di makeuseof.com itu merangkum juga sejumlah saran agar mengatur setelan kekontrasan layar setengahnya saja jika baru menggunakan TV jenis itu selama 100 jam pertama.

Kambing hitam

Begitu banyaknya keluhan soal TV layar datar pada awal kemunculannya tidak pelak membuat citra "TV layar datar gampang rusak".

Lucunya, era berganti, keluhan-keluhan semacam itu surut, khususnya setelah tahun 2013 ketika gerai-gerai tidak lagi menjual TV plasma dan LCD, tetapi LED. Misalnya di harian Kompas, yang hingga tahun tersebut tidak ada lagi surat keluhan serupa.  

Bicara LED, huruf-huruf ini merupakan singkatan dari light emitting diode. Sebenarnya prinsipnya sama dengan LCD yang memanfaatkan layar tersusun dari sel-sel kristal cair dalam tiap-tiap piksel, tetapi ditembak dengan susunan lampu LED dari belakang. Keuntungannya, jenis lampu itu lebih kecil dan tidak sepanas lampu yang digunakan pada TV LCD sebelumnya.

Sekalipun TV LCD sudah beralih era ke TV LED, rasa takut kalau umur pakai TV cuma sebentar mungkin masih melekat.

Pasalnya, TV layar datar atau flat TV memang berbeda-beda teknologi, tetapi rentan menjadi "kambing hitam" karena dianggap punya bentuk sama-sama datar.

First impression memang sedemikian kuatnya. Namun, tidak mungkin pula menghentikan ide-ide masa depan yang mengalir deras.

Sebagai gambaran saja, TV-TV layar datar dari tahun ke tahun kemudian punya embel-embel baru, dari "HD-Ready", "Full HD", hingga " 4K".

"HD" sendiri adalah kependekan dari "high definition" yang secara standar punya ukruan tinggi 720 piksel dan lebar 1.080 piksel atau kerap ditulis 1.080 x 720. Oleh karenanya, TV "HD-Ready" berarti TV tersebut siap dengan gambar 1.080 x 720, tetapi biasanya tidak punya tuner HD di dalamnya.

Adhis Anggiany Perbandingan resolusi video 4K empat kali lebih besar dari ukuran standar High Definition atau sekitar 4096 x 2160

Sementara itu, “Full HD” sendiri berarti ukurannya lebih besar lagi, yakni 1.920 x 1.080 piksel, sedangkan “4K” adalah acuan angka untuk lebar hampir 4.000 piksel, yang sebenarnya adalah 3.840 piksel dengan ukuran tinggi 2.160 piksel atau 3.840 x 2.160.

Baca: Mengenal Teknologi Televisi 4K

Ketika ukuran sudah menjadi hal yang dikejar-kejar, ada pertanyaan menggelitik dari seorang pengamat teknologi bernama Farhad Manjoo. Dia bertanya-tanya, sebenarnya sebesar apa layar televisi yang dibutuhkan di ruang keluarga?

Baca: Beli TV 4K Sekarang, Untuk Apa?

"Tidak ada mata manusia yang sebegitu bagusnya untuk menikmati resolusi TV di atas 4K," kata Farhad Manjoo, seperti dikutip Bloomberg melalui artikel "As TV Resolution Increases, Your Eyes May Be the Limit".

Artikel di Bloomberg tersebut merangkumkan sejumlah pendapat bahwa poin yang dibutuhkan bukan hanya soal resolusi tinggi yang kian tinggi dan tinggi lagi yang kemudian memicu kemunculan TV yang jauh lebih raksasa.

Padahal, perkembangan TV yang masih diharapkan adalah soal kualitas gambarnya. Contohnya saja sejauh apa kedalaman warna yang bisa dihadirkan, lalu kecerahannya, rasio kontrasnya. Hal-hal semacam ini pada akhirnya juga akan menemani perkembangan TV dalam hal jumlah piksel yang tumbuh di level ribuan itu.

Ide soal kualitas gambar itu sendiri sebenarnya sudah diwujudkan, seperti pada TV Hexa Chrome. Warna yang ditampilkan dimodifikasi menjadi lebih kaya dengan penambahan cyan, magenta, yellow (CMY) ke tiga sumbu warna primer RGB sehingga layar TV buatan Panasonic itu total punya 6 kombinasi warna.  

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisDimas Wahyu
EditorSri Noviyanti
Komentar