Kompas.com - 08/01/2015, 14:15 WIB
|
EditorReza Wahyudi
KOMPAS.com - "Kami tahu siapa yang meretas Sony, yaitu Korea Utara," demikian ujar Direktur Federal Bureau of Investigation (FBI), James Comey di hadapan peserta konferensi keamanan siber di Manhattan, AS, Rabu (7/1/2014).

Ucapan Comey itu bukannya tidak berdasar, FBI mengklaim memiliki bukti otentik yang menunjukkan bahwa pihak Korea Utara-lah yang selama ini menjadi biang kerok peretasan di server Sony Pictures Entertainment. Peretasan tersebut berujung tertundanya penayangan film The Interview  di bioskop-bioskop AS.

Bukti yang dimaksud Comey tersebut dikutip KompasTekno dari The Verge, Rabu (7/1/2014) adalah alamat IP (internet protocol) yang tidak disembunyikan dengan rapi oleh para peretas.

Kelalaian tersebut membuat penyelidik di FBI bisa melacak dari mana asal e-mail dan pesan yang disampaikan oleh Guardians of Peace (peretas) kepada para karyawan Sony.

Menurut FBI, alamat IP tersebut hanya eksklusif dimiliki oleh Korea Utara.

Sebagaimana diketahui, Korea Utara memberlakukan akses yang ketat terhadap warganya untuk mengakses internet. Semua koneksi internet dikontrol oleh pemerintah, sehingga pihak ketiga akan sulit untuk membajak IP address Korea Utara tanpa sepengetahuan pemerintah.

Sebelumnya, sesaat setelah peretasan Sony Pictures terjadi, FBI sempat mencurigai Korea Utara karena pola dan metode serangan yang dilakukan, serta target-targetnya mirip dengan percobaan-percobaan peretasan yang pernahdilakukan Korea Utara sebelumnya.

FBI saat itu mengaku memiliki bukti lain yang lebih meyakinkan, namun aparat sandi negara Paman Sam itu menolak untuk membeberkannya lebih lanjut.

Amerika Serikat melalui Presiden Barrack Obama telah menjatuhkan sanksi kepada Korea Utara akibat peretasan tersebut. Namun, Korea Utara tetap mengaku tidak tahu-menahu soal peretasan Sony, walau dalam beberapa kesempatan Korea Utara juga menyampaikan pujian terhadap Guardians of Peace.

Peretasan server yang dialami oleh Sony Pictures Entertainmnet oleh Guardians of Peace ini disebut oleh Direktur Intelijen Nasional AS, James Clapper sebagai serangan siber paling serius terhadap kepentingan AS yang pernah terjadi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber The Verge


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.