BISNIS

Jengkel karena Internet “Downtime”? Ini Penyebabnya...

Kompas.com - 01/04/2015, 16:52 WIB
Saat sedang asyik-asyiknya berselancar di dunia maya,  tiba-tiba situs Anda mengalami gangguan dengan warning ‘’Layanan Tidak Tersedia’. Bila Anda pernah mengalaminya, kejadian itulah yang dinamakan dengan istilah downtime ShutterstockSaat sedang asyik-asyiknya berselancar di dunia maya, tiba-tiba situs Anda mengalami gangguan dengan warning ‘’Layanan Tidak Tersedia’. Bila Anda pernah mengalaminya, kejadian itulah yang dinamakan dengan istilah downtime
|
EditorLatief

KOMPAS.com – Tak jarang, saat sedang asyik berselancar di dunia maya, berkunjung dari satu situs ke situs lainnya, tiba-tiba muncul warning "Layanan Tidak Tersedia" atau Error. Jika Anda pernah mengalaminya, kejadian itulah yang disebut dengan istilah  downtimeyaitu kondisi web tak dapat diakses dalam jangka waktu tertentu.

Jengkel memang, apalagi jika Anda sedang diburu target pekerjaan. Anda dan perusahaan bukan hanya rugi dari sisi waktu, tapi juga finansial. Lalu, apa yang sebetulnya terjadi di balik downtime?

Terputusnya pasokan listrik

Saat pasokan listrik terputus, keberlangsungan sistem kerja pada server di  data center dapat terganggu (uptime). Ini yang disebut dengan downtime.

Kondisi downtime adalah ancaman utama bagi data center, terutama pada negara yang pasokan listriknya kurang baik. Pada saat-saat seperti itu dibutuhkan generator sebagai back up daya dan Uninterruptible Power Supply (UPS). Fungsinya sebagai penahan aliran listrik agar perangkat di data center dapat bertahan sampai generator siap memasok listrik. 

 

www.shutterstock.com Kerusakan komponen pada data center bisa terjadi karena banyak hal, salah satunya akibat suhu ruangan yang lembab. Aplikasi monitoring power dan cooling dapat menjadi solusinya melalui pengukuran pada jumlah panas yang dihasilkan dari berbagai perlengkapan IT dan sumber panas lainnya.

Untuk itulah, syarat utama membangun data center adalah adanya proteksi dengan sistem cadangan, yaitu cadangan daya dan UPS. Pasalnya, server pada data center tidak boleh mati. Ya, bahkan untuk sedetik pun. Bila terlanjur mati, akan butuh waktu lama untuk mulai kembali menghidupkannya (re-boot) kembali.

Perlu diketahui, efektifitas UPS bergantung pada kebugaran baterai yang masa efektifnya adalah dua sampai empat tahun, tergantung ukuran dan kondisi beban yang di-back up oleh UPS tersebut. Semakin bugar baterai, semakin dapat diandalkan kinerjanya. Oleh karena itu, keseluruhan unit baterai harus diganti secara reguler.

Begitu juga dengan generator. Harus ada pemeliharaan meliputi penggantian komponen, pelumasnya atau radiatornya hingga penggantian secara keseluruhan lantaran umur efektifnya sudah habis.

Kelalaian manusia

Dilansir dari situs  Schneider Electric, gangguan terbesar sebetulnya tak hanya datang dari sistem, melainkan juga kelalaian manusia. Situs tersebut menjelaskan, bahwa sistem yang baik juga membutuhkan monitoring yang baik dari Sumber Daya Manusia (SDM). Apakah perencanaan, desain, spesifikasi, hingga berjalannya sistem sudah memadai dan sesuai dengan pengawasan?

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X