Kotak Hitam Pesawat Kok Belum Di-Streaming?

Kompas.com - 07/04/2015, 20:09 WIB
Kotak hitam yang warnya tidak hitam ABCKotak hitam yang warnya tidak hitam
|
EditorWicak Hidayat
KOMPAS.com - Kecelakaan pesawat Air France AF447 di laut Atlantik pada 2009 lalu menyadarkan para pelaku penerbangan, bahwa diperlukan terobosan teknologi baru untuk mendapatkan data kotak hitam secara cepat.

Ditambah lagi dengan kasus menghilangnya pesawat Boeing 777-300 ER Malaysia Airlines penerbangan MH370, serta kasus AirAsia QZ8501 yang pencarian kotak hitamnya juga memakan waktu cukup lama.

Banyak pengamat penerbangan yang berpikir, mengapa di zaman yang serba terhubung ini, butuh waktu lama untuk mencari kotak hitam, padahal teknologi yang ada sat ini sudah memungkinkan untuk melakukan streaming data kotak hitam jika dalam kondisi darurat.

Kotak hitam pesawat yang terdiri atas Cockpit Voice Recorder (CVR) dan Flight Data Recorder (FDR) merekam data-data penting yang biasanya menjadi petunjuk penting dalam penyelidikan kasus kecelakaan pesawat terbang.

Namun, karena didesain tahan banting dan bertahan lama di dalam air, maka kotak hitam juga menjadi susah dicari jika tenggelam di dasar laut.

Sebagai contoh adalah Air France 447 yang butuh waktu dua tahun utnuk menemukan dan mengangkat kotak hitam dari dasar samudera Atlantik.

Walau masing-masing dilengkapi dengan pemancar sinyal darurat, namun baterai pemancar tersebut hanya bertahan selama beberapa hari saja.

Teknologi usang?

Kotak hitam pesawat adalah produk teknologi di tahun 1950-an. Hingga kini, sudah ada beberapa perubahan desain seperti materi penyimpanan data, namun secara keseluruhan, tak banyak desain yang diubah.

Menghilangnya Malaysia Airlines MH370 juga membuat para pakar dan pengamat meragukan kegunaannya.

Pierre Jeanniot, seorang insinyur Kanada yang membantu menyempurnakan teknologi kotak hitam saat masih bekerja di maskapai Air Canada 40 tahun lalu merasa perangkat kotak hitam memang sudah usang.

Jeanniot mulai mempertanyakan keefektifan kotak hitam sudah sejak sepuluh tahun yang lalu, setelah dirinya melihat kondisi pesawat yang digunakan untuk menyerang menara kembar World Trade Center di New York tahun 2001 lalu.

"Kotak hitamnya hancur berkeping-keping," ujar Jeanniot seperti dikutip KompasTekno dari CBC News. Ia berpikir saat itu, akan lebih efisien untuk mentransmisikan data penerbangan ke stasiun di darat.

"Saya yakin kalau kita bisa mengalirkan informasi melalui satelit, alih-alih harus mencari-cari sebuah kotak di antara puing reruntuhan," ujar Jeanniot yang kini menjadi anggota badan penasihat Star Navigation Systems Group, firma yang membuat sistem kotak hitam yang bisa di-live streaming-kan.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X