Kompas.com - 07/10/2016, 15:55 WIB
Tri Ahmad Irfan, mahasiswa UI yang lolos magang di kantor pusat Twitter dua tahun berturut-turut. Facebook Tri Ahmad IrfanTri Ahmad Irfan, mahasiswa UI yang lolos magang di kantor pusat Twitter dua tahun berturut-turut.
|
EditorReza Wahyudi

Upaya lebih keras

Irfan mengatakan perusahaan-perusahaan di Silicon Valley, secara spesifik Twitter, pada dasarnya terbuka dengan siapa saja yang berniat belajar melalui program magang.

Hanya saja, mendatangkan peserta magang dari luar negeri butuh ongkos lebih, seperti tiket pesawat dan tempat tinggal. Karena itu, persentase anak magang yang kuliah di Amerika Serikat memang lebih banyak.

"Harus ada nilai lebih dari mahasiswa luar Amerika kalau mau terpilih jadi anak magang di Twitter. Kita harus berusaha keras. Kalau soal peluang pasti ada," kata mahasiswa semester tujuh tersebut.

Irfan menggarisbawahi dua pos magang yang peluangnya paling besar untuk mahasiswa dari luar Amerika, yakni programming dan product design. Menurut dia, selain dua divisi tersebut, Twitter cenderung memilih talenta lokal Amerika.

Irfan sendiri magang sebagai software engineer. Menurut dia, ada beberapa bahasa pemrograman yang sebaiknya dikuasai sebelum melamar magang di Twitter. Masing-masing adalah Java, Javascript, Python, dan C++.

Sementara itu, untuk kemampuan Bahasa Inggris, Twitter tak mewajibkan peserta magang menyerahkan sertifikat Toefl dengan skor tertentu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Saya nggak pernah tes Toefl. Pas wawancara mereka sudah bisa lihat apakah kemampuan berbahasa saya sudah cukup atau tidak," Irfan menjelaskan.

Sempat tertinggal

Irfan mengakui bahwa pelajaran kuliah ilmu komputer di Indonesia masih kurang luas. Ia bisa bilang begitu karena ternyata banyak hal yang ia tak ketahui setelah menjadi anak magang Twitter.

Mulanya ia merasa tertinggal dari peserta magang lainnya. Tak ingin menyerah, Irfan bekerja lebih keras untuk menyamai pengetahuan yang dimiliki rekan-rekannya.

"Harus berusaha banget. Nggak bisa berhenti belajar," ujarnya.

Berkat kegigihan itu, ia mengklaim sang layanan bernuansa biru senang dengan kinerjanya saat magang tahun lalu. Alhasil, ia ditawari kembali magang pada musim panas tahun ini. Saat diwawancara VOA, Irfan baru saja menuntaskan program magang keduanya di Twitter.

"Ini hari terakhir saya, tadi saya ke kantor Twitter untuk presentasi final," ia menuturkan.

Ke depan, Irfan mengatakan belum punya tujuan spesifik. Yang jelas, ia bakal balik ke Indonesia untuk menyelesaikan studinya. Setelah itu ia masih bingung apakah akan melanjutkan S2, kerja di Indonesia, atau merantau mencari rezeki di negeri Paman Sam.

Baca juga: Orang Indonesia di Balik Game "Assassin's Creed"

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Sumber Facebook

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.