Rantai Produksi iPhone di China Enggan Pindah ke AS

Kompas.com - 30/12/2016, 15:20 WIB
iPhone 7 Plus varian warna gold 128 GB yang ditunjukkan ke KompasTekno oleh salah satu pedagang di pusat perbelanjaan ITC Kuningan, Jakarta, Rabu (21/9/2016). iPhone 7 dan iPhone 7 Plus yang beredar di sini merupakan barang non-resmi. Oik Yusuf/ KOMPAS.comiPhone 7 Plus varian warna gold 128 GB yang ditunjukkan ke KompasTekno oleh salah satu pedagang di pusat perbelanjaan ITC Kuningan, Jakarta, Rabu (21/9/2016). iPhone 7 dan iPhone 7 Plus yang beredar di sini merupakan barang non-resmi.
|
EditorDeliusno

KOMPAS.com - Presiden Amerika Serikat terpilih, Donald Trump, mengimbau Apple untuk memindahkan fasilitas produksi iPhone dari China ke Negara Adikuasa. CEO Apple Tim Cook agaknya masih menjajaki kemungkinan tersebut, tetapi rantai produksi iPhone sendiri mengindikasikan penolakan.

November lalu, sumber dalam menyebut Apple telah membujuk dua rekanan manufaktur utama iPhone di China untuk pindah ke AS. Keduanya adalah Foxconn dan Pegatron.

Kala itu Foxconn disebut masih mempertimbangkan, sementara Pegatron menolak mentah-mentah. Alasan Pegatron tak lain adalah biaya yang akan lebih mahal di AS.

Baca: Trump Janjikan Insentif kalau Apple Bikin Pabrik di AS

Penolakan yang sama pun diumbar penyuplai komponen Apple lainnya, semisal Lens Technology di China. Lens Technology memproduksi material kaca pada tubuh iPhone, sebagaimana dilaporkan DigiTimes dan dihimpun KompasTekno, Jumat (30/12/2016).

Menurut Lens Technology, biaya pekerja di AS jauh lebih mahal, meski biaya listrik dan lahan di sana lebih murah. Selain itu, militansi pekerja di China lebih bisa diandalkan dengan jadwal kerja yang fleksibel.

Terakhir, penyuplai komponen iPhone yang berdomisili di Shenzhen, China Selatan, juga angkat bicara. Menurut dia, rantai produksi di China sudah sangat komplit, mulai dari penyuplai panel pelindung, modul lensa, panel sentuhan, PCB, baterai, hingga perakit.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Rantai produksi tersebut bisa merespons dan beradaptasi satu sama lain secara cepat. Misalnya saja, jika penyuplai A memesan komponen pencetak metal B di China, waktu yang dibutuhkan cuma 10 hari.

Beda halnya di AS yang bisa memakan waktu hingga sebulan. Setidaknya begitu menurut sang penyuplai asal Shenzhen yang enggan jika identitas spesifiknya disebutkan.

Wacana sejak dulu

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Sumber Digitimes

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.