Menkominfo: "Meme" Juga Bisa Jadi Fitnah

Kompas.com - 02/02/2017, 16:21 WIB
Penulis Oik Yusuf
|
EditorReska K. Nistanto

JAKARTA, KOMPAS.com - Meme alias gambar guyonan tentang tokoh atau isu tertentu sudah menjadi fenomena wajar yang bisa menyebar dengan cepat di ranah internet. Meski kebanyakan bernada canda, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengingatkan bahwa meme tetap bisa menjadi sumber misinformasi yang menyesatkan.

"Kalau mengirim meme, pastikan dulu benar atau tidak. Kalau tidak, maka meme itu bisa jadi fitnah," kata Rudiantara ketika ditemui usai acara pengumuman investasi Grab di Jakarta, Kamis (2/2/2017).

Kalaupun informasi yang dikandungnya memang benar, lanjut dia, sebaiknya dipertimbangkan lagi apakah meme tersebut akan mendatangkan manfaat bagi penerimanya. "Kalau benar tapi lalu dipergunjingkan, itu namanya ghibah," ujar Rudiantara.

Rudiantara berbicara dalam konteks maraknya berita hoax alias berita palsu yang menyebar di Tanah Air belakangan ini. Ketimbang membuat undang-undang baru untuk mengatur perkara hoax, Rudiantara mengatakan bahwa cara yang lebih efektif adalah dengan mendorong individu-individu di masyarakat agar berperan aktif menyaring berita palsu, mulai dari diri sendiri.

Baca: Menkominfo Ajak Facebook dan Twitter Perangi Hoax di Indonesia

"Yang kita harapkan, yang pemerintah dorong, adalah masyarakat agar memiliki code of conduct, atau kode etik dalam bermedia sosial," kata Rudiantara.

Selain individu pengguna internet dan media sosial, pemeritnah juga berusaha merangkul perusahaan-perusahaan internet (OTT, over the top) asing yang layanannya seringkali dipakai menyebarluaskan hoax.

Rudiantara mencontohkan kegiatan yang dilakukan bersama Google, pagi hari itu, yakni dengan mengajak jurnalis-jurnalis menggunakan tools dari Google News Lab. Tujuannya meningkatkan kualitas jurnalis yang diaharapkan bisa ikut memerangi berita palsu.

Dia juga berencana melakukan pertemuan dengan pihak Facebook. Rudiantara menyebutkan pertemuan dengan raksasa media sosial itu sebenarnya sudah diagendakan untuk beberapa waktu lalu, tapi kemudian terpaksa ditunda.

Sebelum bertemu langsung, Rudiantara akan melakukan video conferencing dengan perwakilan Facebook. "(Video conference) akan dilakukan minggu depan, rencananya hari senin (6 Februari 2016)," kata dia. Adapun Rudiantara menyebutkan Twitter memiliki kantor di Jakarta sehingga bisa langsung dihampiri.

Meski utamanya mendorong individu pengguna internet untuk menyaring hoax, Rudiantara mengatakan pemerintah tetap harus menggandeng OTT asing sebagai pemilik dan pengelola media sosial. Dia meyakini OTT asing akan bekerja sama dengan pemerintah dan mengambil tindakan untuk memerangi penyebaran berita palsu.

"Karena soal hoax bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan sudah mengglobal. Maka persoalan ini juga merupakan kepentingan mereka," pungkasnya.

Baca: Algoritma Baru Facebook Bisa Tenggelamkan Berita Hoax

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.