Berkenalan dengan Kamera Film yang Kembali Digandrungi di Indonesia

Kompas.com - 05/08/2017, 10:46 WIB
Contoh tekstur grain yang muncul di hasil cetak film Agfa 1000 RS. Gambar kanan memperlihatkan detil tampilan grain dari frame keseluruhan di gambar kiri. Eddi Laumanns/ WikipediaContoh tekstur grain yang muncul di hasil cetak film Agfa 1000 RS. Gambar kanan memperlihatkan detil tampilan grain dari frame keseluruhan di gambar kiri.
Penulis Oik Yusuf
|
EditorReza Wahyudi

Perbedaan hasil jepretan kamera film dan digital

Karena memakai jenis medium yang berbeda, gambar akhir hasil jepretan kamera digital dan film tak pelak juga berlainan. Ada beberapa perbedaan yang bisa diuraikan.

1. Bentuk hasil akhir

Gambar hasil akhir kamera digital berupa data digital yang bisa langsung diakses dan dipindah-pindahkan ke perangkat  digital lain semisal komputer atau smartphone. Data digital ini biasanya disimpan dalam kartu memori yang mampu menampung hingga ribuan gambar, tergantung ukuran file foto dan kapasitas memory card.

Hasil akhir kamera film berupa gambar laten di lembaran film yang mesti dimunculkan dan dibuat permanen lewat proses development dengan sejumlah cairan kimia, kemudian diperbesar (enlarge) sesuai kebutuhan untuk dicetak di kertas film. Jumlah frame foto film yang bisa disimpan dalam satu media (rol film) jauh lebih sedikit dibandingkan kamera digital (kartu memori). Satu rol film 135 misalnya, hanya berisi 36 frame.

Proses menuju hasil akhir pada kamera film memang lebih rumit, tapi sekaligus menambahkan satu tahapan yang bisa dimanfaatkan untuk memodifikasi tampilan foto final, yakni proses pencucian.

Keterbatasan jumlah frame yang tersedia juga umumnya menyebabkan pengguna kamera film lebih berhati-hati dan banyak pertimbangan sebelum menekan tombol shutter.

Sebagian orang berpendapat hal ini menyebabkan tiap frame foto analog cenderung lebih bagus secara estetika karena dipertimbangkan secara matang, dibanding jepretan kamera digital yang memungkinkan penggunanya menjepret sebanyak mungkin sesuka hati.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

2. “Noise" dan "Grain”

Di hasil jepretan kamera digital dan film kadang muncul “tesktur” berupa bintik-bintik. Di foto digital, bintik-bintik ini lazim disebut noise. Asalnya dari gangguan sinyal yang dihasilkan oleh sirkuit elektronik penangkap gambar, entah karena panas atau perubahan sinyal listrik.

Tekstur bentik-bintik serupa di jepretan kamera film disebut sebagai “grain”. Sebabnya bukan berakar dari gangguan sinyal, melainkan partikel-partikel kimia dalam lembaran film.

Noise dan grain biasanya makin tampak apabila sensitivitas sensor atau film meningkat. Film ASA 400 misalnya, cenderung memiliki grain berukuran lebih besar dan lebih terlihat dibandingkan film ASA 100.

Kendati bisa mengganggu, kemunculan tekstur bintik-bintik ini sering pula dengan sengaja dimanfaatkan untuk menambah efek artistik, utamanya pada foto hasil jepretan kamera film.

3. Dynamic range

Contoh perbandingan gambar yang memiliki dynamic range lebih tinggi (kanan) sehingga mampu menangkap detil dengan lebih baik di area gelap dan terang. Perhatikan sisi langit di gambar kanan yang masih memperlihatkan detil berupa bentuk awan, dibanding langit di gambar dengan dynamic range rendah (kiri) yang hanya berupa warna putih polos tanpa detil.Oik Yusuf/ KOMPAS.com Contoh perbandingan gambar yang memiliki dynamic range lebih tinggi (kanan) sehingga mampu menangkap detil dengan lebih baik di area gelap dan terang. Perhatikan sisi langit di gambar kanan yang masih memperlihatkan detil berupa bentuk awan, dibanding langit di gambar dengan dynamic range rendah (kiri) yang hanya berupa warna putih polos tanpa detil.
Dynamic range adalah rentang tonal yang bisa ditangkap oleh sensor kamera atau film dari titik paling terang ke yang paling gelap. Kemampuan dynamic range, misalnya, menentukan apakah subyek foto yang mengalami backlight akan gelap total atau masih terlihat raut wajahnya.

Semakin tinggi dynamic range, semakin baik pula kemampuan sensor kamera digital atau film untuk menangkap semua detil foto di area gelap dan terang.

Dynamic range kamera digital awalnya tertinggal dari film. Namun sensor digital modern kini sudah mampu menghasilkan dynamic range yang bisa menandingi atau melewati kemampuan film.

Kamera digital dan gadget modern saat ini juga sudah banyak dibekali fitur High Dynamic Range (HDR) untuk memperluas dynamic range dengan menjepret beberapa foto dengan exposure berbeda dan menggambungkan hasilnya menjadi satu frame akhir.

4. Sensitivitas terhadap cahaya

Seperti film, sensor kamera digital memiliki ukuran sensitivitas terhadap cahaya. Standar yang digunakan sama, yakni ISO (ASA). Sensitivitas sensor digital saat disetel di angka ISO 200 sama dengan film ISO/ASA 200, demikian juga sebaliknya.

Di kamera digital, rating sensitivitas ini berlaku untuk sensor dan bisa diubah-ubah kapanpun sesuai keinginan. Di kamera film, rating sensitivitas hanya bisa diubah dengan mengganti film yang bersangkutan karena masing-masing film memiliki rating sensitivitas individual yang berbeda, misalnya ASA 50 dan ASA 400. Film modern biasanya tersedia dalam rating sensitivitas ISO 50 hingga 3.200.

Sensor digital memiliki sensitivitas maksimum yang bisa jauh lebih tinggi, mencapai kisaran ratusan ribu.Semakin tinggi sensitivitas, maka semakin peka pula sensor/film terhadap cahaya sehingga pengguna bisa memotret dalam kondisi lebih gelap atau menjaga kecepatan shutter di kisaran tinggi.

Kecepatan shutter yang tinggi biasanya digunakan untuk "membekukan" tampilan subyek yang bergerak cepat sehingga tidak buram karena motion blur, seperti pada foto mobil di atas.

5. Karakter

Hasil gambar kamera digital (kiri) bisa memiliki perbedaaan karakter dengan film (kanan), misalnya dalam hal tonal warna kulit (skin tone) subyek orang. Dua foto ini merupakan jepretan salah satu pendiri Soup n Film, Jerry Surya. Karya-karyanya bisa dilihat di akun Instagram @passiononfilm.Jerry Surya Hasil gambar kamera digital (kiri) bisa memiliki perbedaaan karakter dengan film (kanan), misalnya dalam hal tonal warna kulit (skin tone) subyek orang. Dua foto ini merupakan jepretan salah satu pendiri Soup n Film, Jerry Surya. Karya-karyanya bisa dilihat di akun Instagram @passiononfilm.
Film memiliki “karakter” tampilan yang berbeda-beda antar merek dan jenisnya. Film slide Fujifilm seri Velvia, misalnya, dikenal menghasilkan warna dengan saturasi dan kontras tinggi sehingga tampak mencolok dan sesuai untuk foto-foto pemandangan.

Film negatif Kodak Portra cenderung menghasilkan warna dan kontras lebih halus yang cocok untuk dipakai memotret orang. Sementara, film negatif hitam-putih Kodak Tri-X memiiki karakter kontras dan grain yang terlihat agak kasar tapi banyak disukai.

Sensor kamera digital pun memiliki karakter, tergantung tipe dan konstruksi sensor, serta software pengolah gambar yang digunakan untuk menghasilkan foto akhir. Masing-masing pabrikan kamera digital punya “resep” olahan gambar sendiri untuk menghasilkan tampilan yang khas.

Karakter jepretan kamera digital bersifat permanen karena sensor biasanya tidak bisa diganti. Sebaliknya, pengguna kamera film bisa dengan mudah berganti jenis film untuk mendapatkan karakter foto yang dicari.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.