Facebook Lebih Mudah Mendeteksi Puting Ketimbang Ujaran Kebencian

Kompas.com - 26/04/2018, 20:06 WIB

KOMPAS.com - Facebook memang berhasil membabat 1,9 juta konten terkait terorisme di platformnya. Namun, lain halnya dengan hate speech atau ujaran kebencian.

Pendiri sekaligus CEO Facebook, Mark Zuckerberg, punya alasan mengapa ujaran kebencian masih merajalela di platformnya.

"Alasannya, sistem AI (artificial intelligence) lebih mudah untuk mendeteksi (foto) puting ketimbang ujaran kebencian", jelas Zuckerberg.

Menurut Zuckerberg, AI cukup kesulitan dalam mendeteksi bahasa dialek, konteks, dan menentukan sebuah pernyataan, apakah mengandung ujaran kebencian atau tidak.

Ketika bersaksi di depan wakil rakyat AS, dirinya menambahkan butuh bertahun-tahun untuk bisa menghapus ujaran kebencian secara menyeluruh.

Baca juga : Mark Zuckerberg Diberi Penghargaan Pemberi Informasi Palsu

Menurut beberapa pakar, computer vision (pengenalan obyek oleh komputer) adalah AI paling mutakhir tetapi sedikit kesulitan dalam menganalisis natural language processing (NLP).

Computer Vision milik Facebook akan lebih mudah mendeteksi konten yang tergambar, seperti bendera ISIS atau foto orang yang telanjang, dibanding celaan terhadap etnis tertentu, sebagaimana KompasTekno rangkum dari Venture Beat, Kamis (26/4/2018).

Facebook masih dibanjiri kritikan keras dari beberapa negara yang sedang mengalami konflik etnis, seperti Myanmar dan Sri Lanka.

Algoritma Facebook dianggap masih lemah, karena beberapa ujaran kebencian populer dan merebak di Facebook negara-negara tersebut.

Beberapa aktivis sempat mengeluh bahwa mereka harus melaporkan (report) postingan berkali-kali, sebelum akhirnya karyawan Facebook menanggalkan postingan berisi ujaran kebencian.

Baca juga : Facebook Lambat Hapus Propaganda di Myanmar, Zuckerberg Minta Maaf

Zukcerberg pun sesumbar apa yang dihasilkan Facebook sejauh ini, jauh lebih baik dibanding enam bulan atau setahun lalu.

Dia pun yakin jika Facebook mampu membuat kemajuan untuk memberangus konten negatif, sebab menurutnya itu bukanlah hal yang sulit dipecahkan.

"Kami mengombinasikan AI dan merekrut puluhan ribu orang untuk bekerja dalam masalah ini, saya rasa Anda akan melihat kami membuat kemajuan yang berarti nanti", jelas Zuckerberg.

Baca juga : 1 Juta Akun Facebook di Indonesia Bocor, Ini Link untuk Mengeceknya

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.