Kompas.com - 01/05/2018, 10:19 WIB
Penulis Oik Yusuf
|

Ada apa di balik kepergian Koum dari WhatsApp? Hengkangnya sang pendiri aplikasi pesan instan terpopuler sejagat ini disinyalir berkaitan dengan konflik soal kebijakan privasi pengguna antara WhatsApp dan induk semangnya, Facebook.

Sedari awal, Koum dan Acton mendirikan WhatsApp dengan fokus terhadap privasi pengguna dan menolak kehadiran iklan. Koum pun berjani akuisisi oleh Facebook tak bakal berdampak pada prinsip WhatsApp.

“Anda masih bisa yakin bahwa tak akan ada iklan sama sekali yang menganggu komunikasi,” sebut Koum, pasca akuisisi oleh Facebook.

Baca juga: Ingkar Janji WhatsApp soal Iklan dan Facebook

Kebijakan itu diteruskan oleh Facebook sehingga WhatsApp hingga kini tidak menampilkan iklan. Namun, lambat laun Facebook menekan WhatsApp untuk mulai menghasilkan uang.

Salah satu langkahnya dilakukan pada 2016, saat WhatsApp mengumumkan bakal memberikan nomor-nomor telepon penggunanya ke Facebook, untuk keperluan targeting iklan. Hal ini berujung pada denda  sebesar 122 juta dollar AS dari regulator di Uni Eropa.

Lalu, untuk pengembangan WhatsApp Business, Facebook disinyalir meminta WhatsApp menurunkan tingkat enkripsi end-to-end agar lebih mudah dipakai menerapkan aneka tools bisnis.

Padahal, enkripsi ini adalah fitur privasi andalan WhatsApp agar data pengguna tak bisa diintip oleh siapa pun, termasuk WhastApp dan Facebook sendiri.

Terakhir datanglah skandal Cambridge Analytica (CA). Namun, keterangan sumber yang dirangkum KompasTekno dari TechCrunch, Selasa (1/5/2018) menyebutkan bahwa perselisihan antara Koum dan Facebook sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum skandal CA menyeruak.

Koum dikabarkan sudah berencana meninggalkan Facebook sejak setahun lalu. Acton yang lebih dulu hengkang, kini berbalik menentang raksasa media sosial tersebut dengan terang-terangan mendukung gerakan #DeleteFacebook.

Belum diketahui siapa yang akan menggantikan posisi Koum sebagai CEO WhatsApp.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Sumber TechCrunch
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.