kolom

Registrasi Kartu Prabayar Membawa Korban

Kompas.com - 18/05/2018, 13:08 WIB
Belasan pelaku usaha yang menggeluti bisnis penjualan kartu perdana di wilayah Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah mengamuk dan membakar seluruh kartu SIM prabayar aktif dagangannya, di pinggir jalan raya Grobogan - Semarang, tepatnya‎ di Desa Manggarmas, Kecamatan Godong, Grobogan, ‎Kamis (22/3/2018).KOMPAS.com/PUTHUT DWI PUTRANTO Belasan pelaku usaha yang menggeluti bisnis penjualan kartu perdana di wilayah Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah mengamuk dan membakar seluruh kartu SIM prabayar aktif dagangannya, di pinggir jalan raya Grobogan - Semarang, tepatnya‎ di Desa Manggarmas, Kecamatan Godong, Grobogan, ‎Kamis (22/3/2018).

REGISTRASI kartu prabayar membawa korban. Tidak usah bicara soal Smartfren yang memang dalam proses merugi meskipun jumlah kerugiannya makin kurang, Telkomsel dan Indosat Ooredoo dan XL Axiata mengalami penurunan laba bahkan rugi dalam proses registrasi yang baru saja lewat.

Dari laporan keuangan operator telko papan atas triwulan pertama tahun 2018, operator paling parah adalah Indosat yang pendapatannya turun dari Rp 7,29 triliun di triwulan 1 tahun 2017 menjadi Rp 5,692 triliun di triwulan 1 tahun 2018.

Anak perusahaan Ooredoo itu mencatatkan rugi Rp 505,69 miliar, turun fantastis, 390,8 persen dari Rp 173,85 miliar pada periode sama.

Kelompok PT Telkom (Telkomsel di dalamnya), walaupun mencatat kenaikan pendapatan 4,26 persen dari Rp 31,022 triliun menjadi Rp 32,343 triliun, labanya turun 13,64 persen dari Rp 6,7 triliun menjadi Rp 5,78 triliun.

Sementara XL Axiata yang juga mencatat kenaikan pendapatan periode sama dari Rp 5,265 trilun menjadi Rp 5,5 triliun (4,48 persen) labanya pun ikut turun dengan 66,8 persen dari Rp 46,5 miliar menjadi Rp 15,43 miliar.

Baca juga: Hitung Ulang, 250 Juta Nomor Prabayar Berhasil Registrasi

Smartfren angka kerugiannya turun 9,2 persen dari Rp 754,3 miliar menjadi Rp 685 miliar, dengan pendapatan yang naik 4,48 persen dari Rp 1,02 triliun menjadi Rp 1,2 triliun.

Para operator sudah mengantisipasi terjadinya penurunan laba, karena proses registrasi memotong banyak sekali nomor pelanggan yang dilaporkan.

Jumlah pelanggan seluruh operator yang dilaporkan sebelum program registrasi mencapai 405 juta lebih, namun pada 1 Mei lalu jumlahnya sudah menyusut menjadi 354,79 juta.

Jumlah pelanggan naik-turun dalam proses registrasi, dari 376 juta pada 31 Desember 2017 menjadi 305,8 juta pada masa akhir registrasi di 28 Februari, naik lagi menjadi 353 juta pada 24 April, dan ketika program registrasi dianggap selesai oleh pemerintah, pada 30 April 2018, jumlahnya 354.792.159 nomor pelanggan.

Dari jumlah akhir itu, Telkomsel memiliki 192,75 juta pelanggan, turun dari 196,32 juta pada akhir triwulan 4 tahun 2017. Indosat mencatat pelanggan akhirnya 96,2 juta dari 110,2 juta, dan hanya XL Axiata yang pelanggannya naik tipis dari 53,5 juta menjadi 54,5 juta.

Penambahan jumlah pelanggan menjadi obsesi operator dengan harapan pertumbuhan pendapatannya bisa sebanding. Pada kenyataannya, jumlah pelanggan yang dilaporkan juga termasuk nomor yang sudah tidak aktif, sehingga selain membebani sistem juga menurunkan ARPU (average revenue per user – rata-rata pendapatan dari tiap pelanggan).

Masa lalu, operator menjual perdana dengan program promosi sehingga harganya menjadi murah untuk paket data, dibanding jika membeli paket data terpisah untuk pelanggan lama. Akibatnya banyak kartu perdana dibuang begitu saja ketika paketnya habis.

Dengan program registrasi yang verifikasinya dilakukan Kementerian Dalam Negeri lewat Ditjen Kependudukan dan Pencacatan Sipil (Dukcapil), orang tidak bisa lagi sembarangan memasukkan data untuk registrasi. Jumlah pelanggan akhir itulah yang bisa dikatakan angka murni, yang akan membuat industri menjadi lebih efisien.


Page:

Close Ads X