Sempoyongan di Indonesia, LG Sebut Xiaomi

Kompas.com - 13/03/2019, 14:57 WIB
Sales Director LG Electronic Indonesia, Budi Setiawan, Rabu (13/3/2019), dalam rangkaian InnoFest di Sydney, Australia.Fatimah Kartini Bohang/Kompas.com Sales Director LG Electronic Indonesia, Budi Setiawan, Rabu (13/3/2019), dalam rangkaian InnoFest di Sydney, Australia.

SYDNEY, KOMPAS.com - Sudah hampir setahun smartphone LG tak terdengar gaungnya di Indonesia. Terakhir kali, masyarakat disuguhkan LG G7 pada pertengahan 2018.

Sales Director LG Electronics Indonesia, Budi Setiawan, mengatakan bisnis smartphone memang sedang ditangguhkan sementara, tetapi tak bakal benar-benar berhenti.

“Kami sedang memikirkan strategi apa yang pas. Modelnya bisnisnya akan berubah nanti,” kata dia pada KompasTekno, Rabu (13/3/2019), dalam wawancara khusus untuk rangkaian “LG InnoFest”, di Sydney, Australia.

Baca juga: LG Resmikan V50 ThinQ dengan Dukungan 5G

Jika sebelumnya smartphone LG dipasarkan untuk pasar terbuka (open market), maka ke depan rencananya bakal lebih menggunakan sistem bundling dengan operator seluler. Namun, rencana ini masih dalam tahap diskusi.

“Untuk open market sekarang lagi berat kompetisinya. Orang-orang semakin lama ganti smartphone, harganya juga semakin turun,” kata Budi Setiawan.

“Di (segmen) bawah juga sudah berat, ketemu sama Xiaomi. Bukan hanya LG yang sempoyongan, kompetitor lain juga sama semua,” ia menambahkan.

Di sisi lain, LG tengah fokus mengembangkan bisnis elektroniknya. Di Indonesia, LG ingin memimpin segmen premium untuk televisi, mesin cuci, kulkas, penyedot debu, dan lainnya.

Baca juga: Dipepet Xiaomi di Indonesia, Apa Kata Samsung?

“Tahun 2018, kontribusi penjualan elektronik segmen premium menyumbang 50 persen ke total pendapatan. Sebelumnya cuma 10 persen. Kami optimis bisa memenangkan sektor ini,” ia menuturkan

Hal ini digenjot melalui implementasi teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang semakin memudahkan pekerjaan rumah dan memenuhi kebutuhan hiburan.




Close Ads X