Bahaya yang Mengintai Setelah Pesawat Lama Tak Terbang karena Covid-19

Kompas.com - 16/12/2020, 19:09 WIB

Alhasil salah satu roda belakang A330 Lion Air registrasi PK-LEG itu sedikit keluar runway saat berputar di ujung landasan.

Baca juga: Lion Air Ganti Penyedia Navigasi dari Jeppesen ke Navblue

Hazard lain yang dikhawatirkan Gerry berasal dari GSE (ground support equipment), awak darat yang menangani pesawat sebelum dan sesudah terbang, seperti truk pengisi bahan bakar, katering, lavatory, tangga pesawat, dan sebagainya.

"Karena saking berkurangnya aktivitas, jadi waktu mulai gerak lagi, GSE bisa nabrak, truk nabrak, dan sebagainya," kata Gerry.

Meski demikian, Gerry menyebut potensi bahaya ini tidak akan bertahan lama. Karena begitu kru biasanya akan memenuhi persyaratan minimum dengan cepat, begitu mereka mulai terbiasa bekerja kembali.

Sementara dari sisi pesawat yang disimpan terlalu lama, Gerry mengatakan selama maskapai mematuhi anjuran pabrikan, bagaimana cara menyimpan dan mengoperasikan kembali pesawat setelah disimpan, maka seharusnya tidak ada masalah.

"Bahayanya kalau mereka buru-buru ingin mengaktifkan pesawat, waktu persiapan pesawat yang tadinya butuh lima hari, kemudian karena butuh segera angkut penumpang, kemudian persiapan jadi hanya tiga hari. Nah, di situ ada potensi hazard," imbuh pria berkaca mata itu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Otoritas penerbangan Eropa (EASA) dikutip KompasTekno dari Reuters, Rabu (16/12/2020), juga menyebut bahwa ada tren kerusakan indikator kecepatan pesawat dan ketinggian, pada pesawat yang lama disimpan.

Baca juga: Banyak Dipakai di Indonesia, Pesawat B737 Ini Rawan Mati Mesin di Udara

Banyak kejadian data kecepatan dan ketinggian yang ditampilkan di kokpit tidak sesuai, saat pesawat pertama kali diterbangkan setelah lama disimpan.

Kebanyakan kasus, hal itu disebabkan oleh sensor yang kotor karena ada serangga atau kotoran lain yang menyumbat pitot tube.

Pada Juni lalu, maskapai Wizz Air membatalkan take-off setelah kapten penerbangan melihat kecepatan pesawat tetap nol.

Pemeriksaan menyeluruh dalam pesawat menemukan larva di salah satu lubang pitot tube, setelah pesawat diparkir 12 minggu. Saat itu, tidak ada penumpang yang diangkut.

Pitot tube yang tersumbat ini menjadi salah satu kontributor kecelakaan pesawat, seperti kasus yang dialami oleh Air France penerbangan AF447 pada Juni 2009 yang menelan 228 korban jiwa, dan pesawat charter Birgenair pada 1996 lalu, yang menewaskan 189 penumpang dan awak pesawat.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.