Apa Itu Phising dan Bagaimana Cara Menghindarinya?

Kompas.com - 11/03/2021, 10:06 WIB
ilustrasi hacker shutterstockilustrasi hacker

KOMPAS.com - Selain membawa banyak manfaat, perkembangan teknologi juga dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan untuk melakukan penipuan dan mengeruk keuntungan, misalnya scammer alias penipu melalui teknik phising.

Phising adalah sebuah upaya menjebak korban untuk mencuri informasi pribadi, seperti nomor rekening bank, kata sandi, dan nomor kartu kredit.

Aksi phising bisa dilancarkan melalui berbagai media seperti e-mail, media sosial, panggilan telepon, dan SMS, atau teknik rekayasa sosial dengan memanipulasi psikologis korban.

Saat menghubungi target, pelaku phising akan berpura-pura menjadi pihak resmi yang mungkin pengguna kenal atau percayai, seperti pihak bank, perusahaan kartu kredit, situs jejaring sosial, aplikasi pembayaran online, hingga toko online.

Baca juga: Alasan Orang Indonesia Sering Jadi Korban Penipuan lewat Modus OTP

Ketika melancarkan aksinya, pelaku phising biasanya akan mengawali penipuan dengan memberikan kalimat-kalimat yang membuat khawatir atau antusias untuk memancing reaksi. 

Misalnya, mereka mengirimi pesan ke pengguna mengabarkan bahwa ada aktivitas yang tidak sah dan mencurigakan di akun pengguna, atau ada transaksi dalam jumlah besar dari kartu kredit pengguna di luar negeri.

Ada juga yang berupaya menjebak dengan mengatakan bahwa calon korbannya memenangkan hadiah tertentu. Bersama dengan kabar tersebut, pelaku phising biasanya menggiring korban ke situs yang dibuat agar mirip dengan situs resmi suatu pihak seperti bank, padahal bukan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Di situs inilah korban diminta untuk memasukkan data pribadi, baik berupa e-mail dan kata sandi, nomor rekening bank, atau nomor kartu kredit. Informas tersebut bisa digunakan oleh scammer untuk menguras uang korban, memeras korban, atau dijual kepada penjahat lainnya.

Whaling, pharming, vishing

Menurut laman Scamwatch pemerintah Australia, ada dua jenis phising. Pertama disebut whalingyang menarget pelaku bisnis. Untuk meyakinkan calon korban, penjahat menggunakan informasi spesifik tentang bisnis tersebut, yang diperoleh dari pihak lain.

Facebook dan Google, misalnya, sempat menjadi korban penipuan sebesar 100 juta dollar AS oleh scammer yang berpura-pura menjadi perwakilan dari perusahaan rekanan di Taiwan. Ini membuktikan bahwa perusahaan teknologi besar sekalipun bisa menjadi korban phising.

Baca juga: Facebook dan Google Jadi Korban Penipuan Online

Lalu ada juga pharming, di mana penjahat siber menggunakan malware yang dipasang di komputer korban untuk megalihkan mereka ke situs perangkap. Gara-gara malware, peramban pun otomatis menuju website berbahaya, meskipun URL di-klik dari bookmark.

Kemudian, yang belakangan marak di masa pandemi adalah voice phising alias vishing, yakni upaya phishing dengan menggunakan video call alias telekonferensi.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.