Kompas.com - 01/07/2021, 13:37 WIB

KOMPAS.com - Baru-baru ini, data 700 juta pengguna LinkedIn dikabarkan dijual di situs online Raid Forum. Jumlah tersebut kira-kira 93 persen dari total pengguna LinkedIn yang diklaim mencapai 756 pengguna.

Atas kejadian tersebut, LinkedIn tidak menampik adanya kebocoran data, tapi menolak tudingan bahwa kasus ini merupakan pembobolan data pengguna. Mereka berdalih bahwa tidak ada informasi pribadi yang sensitif terekspos di situs Raid Forums.

"Kami ingin memperjelas bahwa kasus ini bukanlah pembobolan data dan tidak ada data pribadi anggota LinkedIn yang terekspos," jelas perwakilan LinkedIn, dihimpun KompasTekno dari Enterpreneur, Kamis (1/7/2021).

Baca juga: LinkedIn Bobol Lagi, Data 700 Juta Pengguna Dijual Online

LinkedIn menjelaskan bahwa dari penyelidikan yang mereka lakukan, data yang dijual di Raid Forum itu diperoleh dengan cara scraping atau ekstraksi. Teknik yang sama seperti kejadian bulan April lalu, di mana ada 500 juta data pengguna LinkedIn yang dijajakan di Raid Forum.

Sebagai informasi, teknik scraping biasanya memanfaatkan software otomatis untuk mengambil informasi publik dari internet dan mendistribusikannya di forum online. Kendati demikian, LinkedIn mengatakan mengekstraksi data tetap merupakan sebuah pelanggaran.

"Mengekstraksi (scraping) data dari LinkedIn merupakan pelanggaran terhadap ketentuan layanan kami dan kami terus berusaha memastikan privasi anggota kami terlindungi," jelas perwakilan LinkedIn, melansir dari Pocket Now.

Ratusan juta data pengguna LinkedIn yang dijual di Raid Forum pertama kali diungkap situs PrivacySharks. Data tersebut dijual oleh salah satu anggota Raid Forum dengan username "GOD" pada 22 Juni lalu.

Baca juga: Marak Jual Beli Foto Selfie Pegang KTP di Facebook

Penjual turut melampirkan sampel berisi 1 juta rekaman data. Setelah diperiksa, sampel tersebut memuat beberapa informasi pribadi, meliputi alamat e-mail, nama lengkap, nomor telepon, alamat fisik, riwayat lokasi, username LinkedIn dan URL profil, latar belakang dan pengalaman profesional maupun personal, gender, dan akun media sosial lain.

Menurut laporan Restore Privacy, setelah menguji sampel yang diberikan penjual, ditemukan bahwa data tersebut adalah otentik dan berasal dari pengguna LinkedIn asli. Bahkan, data yang dijual termasuk data yang diperbarui tahun 2020 dan 2021.

Penjual data mengaku mendapatkan ratusan juta data itu dengan mengeksplotasi API LinkedIn. Data hasil ekstraksi itu kemudian dijual dengan harga 5.000 dollar AS atau sekitar Rp 72,6 juta (kurs Rp 14.500).

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

5 Fitur Pembeda Aplikasi Photos di Oppo Reno 7 4G

5 Fitur Pembeda Aplikasi Photos di Oppo Reno 7 4G

Gadget
Ini Alasan Oppo Find X5 Pro 5G Disebut sebagai Smartphone Gahar di Kelasnya

Ini Alasan Oppo Find X5 Pro 5G Disebut sebagai Smartphone Gahar di Kelasnya

BrandzView
Samsung Didenda Rp 207 Miliar gara-gara Iklan Fitur Tahan Air

Samsung Didenda Rp 207 Miliar gara-gara Iklan Fitur Tahan Air

e-Business
Cara Split Bill GoPay, Bayar Patungan Makin Mudah

Cara Split Bill GoPay, Bayar Patungan Makin Mudah

Internet
Cara Cek Lokasi Penjual Minyak Goreng Rp 14.000 Secara Online

Cara Cek Lokasi Penjual Minyak Goreng Rp 14.000 Secara Online

e-Business
2 Cara Cari GraPARI Terdekat untuk Upgrade 4G Telkomsel

2 Cara Cari GraPARI Terdekat untuk Upgrade 4G Telkomsel

Gadget
Pengamat: GoFood-GrabFood Ciptakan Ketergantungan, Tetap Dipakai Meski Harganya Jadi 'Normal'

Pengamat: GoFood-GrabFood Ciptakan Ketergantungan, Tetap Dipakai Meski Harganya Jadi "Normal"

e-Business
Sosialisasi Mulai Hari Ini, Begini Cara Beli Minyak Goreng Rp 14.000 via Aplikasi PeduliLindungi

Sosialisasi Mulai Hari Ini, Begini Cara Beli Minyak Goreng Rp 14.000 via Aplikasi PeduliLindungi

e-Business
Foto Halaman Depan Koran 'Kompas' Jadi Produk NFT, Dijual di OpenSea

Foto Halaman Depan Koran "Kompas" Jadi Produk NFT, Dijual di OpenSea

Internet
Grab dan Gojek Tanggapi Keluhan Harga GoFood dan GrabFood yang Dinilai Makin Mahal

Grab dan Gojek Tanggapi Keluhan Harga GoFood dan GrabFood yang Dinilai Makin Mahal

e-Business
Terancam Diblokir karena Belum Daftar PSE, Twitter dan Meta Bungkam, Google Akan Menyesuaikan

Terancam Diblokir karena Belum Daftar PSE, Twitter dan Meta Bungkam, Google Akan Menyesuaikan

Internet
Selain Google, Twitter, dkk, Ini 6 Kategori Platform Digital yang Wajib Daftar ke Kominfo

Selain Google, Twitter, dkk, Ini 6 Kategori Platform Digital yang Wajib Daftar ke Kominfo

Internet
Link Pengumuman PPDB Jatim 2022 Tahap 2 Jalur Prestasi Nilai Akademik SMA

Link Pengumuman PPDB Jatim 2022 Tahap 2 Jalur Prestasi Nilai Akademik SMA

e-Business
Pengamat: Bukan Makin Mahal, Harga GoFood-GrabFood Makin 'Normal'

Pengamat: Bukan Makin Mahal, Harga GoFood-GrabFood Makin "Normal"

e-Business
Harga iPhone di Jepang Saat Ini Termurah Sedunia

Harga iPhone di Jepang Saat Ini Termurah Sedunia

Gadget
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.