Kompas.com - 18/02/2022, 15:15 WIB

KOMPAS.com - Trending topic atau topik yang sedang ramai dibicarakan di media sosial selalu menggunakan hashtag atau tanda pagar (#). Bagi pengguna aktif media sosial seperti Twitter mungkin sudah tidak asing lagi dengan hashtag.

Di platform Twitter, pengguna bisa dengan mudah mencari trending topic hanya berbekal pencarian kata kunci yang dimulai dengan simbol "#". Pengguna Twitter bahkan bisa melihat jumlah akun yang sedang membicarakan topik tersebut.

Di sisi lain, pengguna Twitter kadang secara sengaja membuat konten, lalu menyisipkan simbol "#" dengan kata kunci pada topik tertentu yang sedang populer, namun kontennya sama sekali tidak berkaitan dengan topik tersebut.

Baca juga: Sejarah World Wide Web atau WWW, Penemunya Tim Berners Lee Tahun 1989

Begitu pula di platform Instagram, hashtag juga banyak digunakan pengguna agar kontennya bisa terlibat dalam trending topic. Hashtag seolah jadi satu kesatuan dengan trending topic. Saat ini, kiranya tidak ada topik populer yang tidak memakai hashtag.

Namun, mengapa trending topic identik dengan hashtag bukan simbol lainnya? Untuk mengetahuinya, barangkali perlu untuk melihat sejarah hashtag terlebih dahulu.

Sejarah hashtag

Jauh sebelum hashtag jamak digunakan di media sosial, simbol "#" telah lama dipakai di bahasa Pemrograman C untuk menandai rangkaian kode tertentu agar bisa diproses terlebih dahulu.

Kemudian, penandaan perintah menggunakan simbol "#" tersebut akhirnya diadopsi di platform forum chat online lawas Internet Relay Chat (IRC) di tahun 1988. Namun, simbol "#" di IRC bukan digunakan untuk menandai kode, melainkan menandai nama forum chat.

Dengan begitu, hashtag secara mendasar punya fungsi untuk menandai teks tertentu. Dari penggunaan simbol "#" di IRC, kemudian diadopsi di platform media sosial Twitter untuk pertama kalinya.

Orang yang berjasa menghadirkan hashtag di Twitter adalah pengguna IRC yang bernama Chris Messina. Laki-laki asal Amerika Serikat itu memboyong ide penggunaan hashtag dari IRC ke Twitter pada 23 Agustus 2007.

Messina kala itu menemukan bahwa hashtag yang berfungsi untuk menandai suatu teks juga bisa diterapkan di Twitter. Menurutnya, tagar yang diletakkan di akhir tulisan bakal membuat tulisan itu masuk ke satu aliran topik dan dapat ditemukan dengan mudah oleh pengguna.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.