Bos Huawei Sesumbar Bisa Pepet Apple Kalau Tidak Disanksi AS

Kompas.com - 09/07/2022, 20:00 WIB

KOMPAS.com - Huawei hingga kini masih tercatat sebagai salah satu perusahaan yang masuk dalam entity list atau "daftar hitam" pemerintah Amerika Serikat (AS). Hingga tahun ini, sudah sekitar 3 tahun sejak Huawei disanksi pemerintah AS pada Mei tahun 2019.

Perusahaan yang masuk daftar hitam, seperti Huawei, dilarang menggunakan teknologi asal AS, termasuk Google Mobile Service atau Android. Padahal, teknologi tersebut dibutuhkan Huawei untuk mengembangkan bisnis ponselnya.

Akibat sanksi dari pemerintah AS, bisnis smartphone Huawei tak secemerlang dulu, meskipun perusahaan mengatasinya dengan mengembangkan sistem operasi sendiri dan solusi lainnya.

Baca juga: Setelah Huawei, Pemerintah AS Incar Honor untuk Di-blacklist

Menurut eksekutif Huawei, jika bukan karena sanksi AS, pihaknya akan menjadi produsen smartphone terbesar di dunia, bersanding dengan Apple.

"Jika bukan karena intervensi dan tekanan AS, produsen smartphone utama dunia mungkin adalah Huawei dan Apple. Bukannya saya sombong, tetapi hasilnya mungkin akan demikian saat ini," kata Richard Yu, CEO grup bisnis konsumen Huawei dalam forum otomotif di China, dikutip KompasTekno dari Android Authority, Sabtu (9/7/2022).

Adapun Samsung menurut Richard Yu tidak akan menjadi kompetitor yang menghalangi perusahaannya jadi produsen terbesar dunia.

"(Produsen) yang lain adalah pabrikan kecil, termasuk perusahaan Korea (Samsung), yang mungkin sebagian besar produknya dijual di pasar AS dan Korea Selatan," umbar Yu.

Baca juga: Apple Teratas di Pasaran Smartphone, Huawei Terjerembap

Pernah salip Apple dan Samsung

Apa yang dikatakan Yu sejatinya memiliki dasar. Jika menilik ke belakang, Huawei memang sempat masuk lima besar produsen ponsel terbesar global sebelum masuk daftar hitam AS.

Misalnya pada kuartal IV-2017, data Gartner menunjukkan Huawei berada di posisi ketiga setelah Samsung dan Apple. Kemudian pada awal 2018, Apple untuk pertama kalinya disalip oleh perusahaan asal China itu.

Bahkan setelah masuk dalam daftar hitam, tepatnya pada April tahun 2020, Huawei sukses merebut kepemimpinan Samsung dalam 5 besar merek ponsel global. Saat itu Huawei menguasai 21,4 persen pangsa pasar smartphone global, sementara Samsung 19,1 persen.

Baca juga: Pertama Kali, Huawei Salip Samsung sebagai Pabrikan Smartphone Terbesar

Namun, perlahan sanksi dari AS mulai mengoyak bisnis ponsel Huawei. Nama merek itu kini tidak lagi nampang di daftar lima besar merek ponsel global.

Huawei bahkan menjual sub-mereknya Honor ke Shenzhen Zhixin New Information pada November 2020 dan memangkas produksi ponselnya sejak awal 2021.

Sejauh ini, Huawei masih menjual ponsel, khususnya untuk seri menengah ke atas. Meski demikian popularitasnya kian meredup karena tak lagi didukung teknologi asal negeri Paman Sam.

Baca juga: Pendiri Huawei Ungkap Alasan Jual Bisnis Ponsel Honor

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.