Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Moch S. Hendrowijono
Pengamat Telekomunikasi

Mantan wartawan Kompas yang mengikuti perkembangan dunia transportasi dan telekomunikasi.

kolom

Kekebalan Telekomunikasi Hadapi Resesi

Kompas.com - 25/07/2022, 13:01 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Dari sejarahnya, telekomunikasi (seluler) tidak mudah tertular resesi, bahkan menjadi penyelamat bangsa dalam menghadapi masalah-masalah ekonomi dan kehidupan. Industri ini kebal dari pandemi atau resesi akibat perang, menyelamatkan bangsa dari kebangkrutan, ekonomi digital membuat kehidupan masyarakat bertahan, bahkan membaik.

Pandemi memukul masyarakat dengan banyaknya perusahaan melakukan PHK, mematikan semangat orang karena semua lapangan kerja tertutup. Tetapi di sisi lain ekonomi rumah tangga justru jalan, UMKM tumbuh, yang membuat korban PHK yang kreatif tak ingin kembali ke tempat kerja semula.

Teknologi Open RAN

Indonesia memang belum menguasai industri infrastruktur teknologi telekomunikasi yang padat modal. Tetapi teknologi baru, Open RAN (radio access network), misalnya, memungkinkan operator ekspansi dengan biaya lebih efektif dan efisien.

Teknologi perangkat akses radio ini mengadopsi konsep antarmuka terbuka (open interface) memungkinkan operator menggunakan kombinasi perangkat radio, semisal unit radio dan baseband tanpa terikat pada vendor teknologi.

Open RAN menurunkan beban perangkat dan operasional operator, mendorong tumbuhnya pemain baru pada industri perangkat akses radio yang didominasi penyedia teknologi dunia, Samsung, Ericsson, Nokia, Huawei.

Selama ini operator harus membeli BTS (base transceiver station) komplet perangkat keras dan perangkat lunaknya. Open RAN membuat operator tidak perlu beli perangkat lunak yang bisa dipasok startup teknologi dengan harga jauh lebih murah, yang memperbesar kemampuan operator meluaskan jaringan sampai ke pelosok.

Perkasanya telekomunikasi melewati pandemi bisa dilihat dari laporan keuangan mereka. Pendapatan PT Telkom, yang 75 persen lebih disumbang Telkomsel, di triwulan 1 (T1) berturut-turut tahun 2020, 2021 dan 2022 sebesar Rp 34,19 triliun, Rp 33,945 triliun dan Rp 35,208 triliun, labanya Rp 5,86 triliun, Rp 6 triliun dan Rp 6,12 triliun.

Periode sama, IOH mendapat Rp 6,5 triliun, rugi Rp 605 miliar; lalu Rp 7,35 triliun, untung Rp 172,1 miliar, T1 tahun 2022 pendapatannya Rp 10,9 triliun, untung Rp 128,7 miliar.

XL Axiata: Rp 6,5 triliun untung Rp 1,5 miliar; Rp 6,25 triliun untung Rp 302,5 miliar; T1 2022 mendapat Rp 6,74 triliun, untung Rp 139 miliar.

Smartfren meraih pendapatan Rp 1,99 triliun, ruginya Rp 1,78 triliun; lalu Rp 2,4 triliun dan rugi Rp 396 miliar, dan T1/2022 raih Rp 2,68 triliun, labanya Rp 25 miliar.

Nyata, pandemi dan resesi tidak membuat telekomunikasi bangkrut, bahkan jadi “bahan bakar” muncul dan berkembangnya UMKM dan usaha rumah tangga. Meski keuangannya sempat tertekan beban donasi data ke sekolah, universitas dan UMKM. *

 

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com