TNI AD Manfaatkan Teknologi OpenBTS

Kompas.com - 07/04/2014, 17:30 WIB
TNI AD melakukan latihan penanganan huru-hara menjelang Pemilu 2014, di lapangan Rindam IV/Diponegoro, Kota Magelang, Senin (2/12/2013). KOMPAS.com/Ika FitrianaTNI AD melakukan latihan penanganan huru-hara menjelang Pemilu 2014, di lapangan Rindam IV/Diponegoro, Kota Magelang, Senin (2/12/2013).
Penulis Aditya Panji
|
EditorWicak Hidayat
JAKARTA, KOMPAS.com - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) memamerkan sejumlah alat teknologi yang dikembangkan sendiri untuk meningkatkan kapabilitas alat utama sistem pertahanan (Alutsista), Senin (7/4/2014). Salah satu teknologi yang dipamerkan adalah OpenBTS.

OpenBTS merupakan teknologi alternatif untuk membangun Base Transceiver Station (BTS) sendiri dalam telekomunikasi GSM berbasis peranti lunak bersifat terbuka (open source).

Pengembangan teknologi OpenBTS oleh TNI AD dilakukan bersama Universitas Surya. Onno W. Purbo, praktisi telekomunikasi sekaligus dosen Universitas Surya, terlibat dalam penelitian dan pengembangan ini.

Menurut Onno, OpenBTS ini akan digunakan untuk operasi TNI di wilayah perbatasan atau di daerah yang terkena bencana alam. “Kami sedang memberi pelatihan selama 6 bulan untuk tim inti, selanjutnya mulai sosialisasi teknologi ini ke Komando Daerah Milter (Kodam),” katanya.

Perangkat dengan software OpenBTS ini memanfaatkan daya amplifier 1W dan 50W dengan jangkauan jaringan sekitar 10 sampai 15km.

OpenBTS memang memungkinkan penggunanya tidak bergantung pada operator selular yang jaringannya tak merambah wilayah terpencil dan membantu telekomunikasi jika infrastruktur milik operator seluler mengalami kerusakan akibat bencana alam.

Selain OpenBTS, ada 15 alat hasil riset teknologi TNI AD yang sebagian besar merupakan hasil pengembangan dengan Universitas Surya dan beberapa di antaranya hasil rancang bangun yang dilaksanakan sendiri oleh TNI AD.

Kepala Staf TNI AD Budiman, mengatakan, kerjasama dengan Universitas Surya diharap mampu mendorong para prajurit untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam menghasilkan produk yang dapat mendukung tugas TNI AD, sehingga tidak harus membeli produk dari luar negeri.

Ia menjelaskan, jika membeli Alutsista dari luar negeri, maka negara produsen akan menyimpan alat terhebat untuk digunakan sendiri. Alat “layer kedua” akan diberikan kepada sekutunya, sementara “layer ketiga” akan dijual kepada negara lain yang membeli.

Selain itu, dengan memproduksi Alutsista sendiri dapat menghemat keuangan negara. Budiman mengatakan riset alat teknologi yang dipamerkan saat ini membutuhkan dana Rp 31 miliar.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X