Finalis Intel ISEF Asal Indonesia Juga Jadi Duta Budaya

Kompas.com - 14/05/2016, 15:34 WIB
|
EditorDeliusno

PHOENIX, KOMPAS.com - Pelajar-pelajar asal Indonesia yang mengikuti ajang kompetisi sains dan teknologi tingkat dunia, International Science and Engineering Fair (ISEF) yang diselenggarakan oleh Intel di Phoenix, Arizona, AS, juga menjadi duta kebudayaan.

Di sesi Public Visitation Day yang digelar pada hari Kamis (12/5/2016) di Phoenix Convention Center waktu setempat, pelajar-pelajar Indonesia sengaja mengenakan pakaian adat daerah masing-masing, seperti pakaian adat Jawa, Betawi, Sulawesi, Bali, dan sebagainya.

Public Visitation Day merupakan sesi dimana ilmuwan-ilmuwan muda Indonesia, bersama dengan peserta dari negara lain, memamerkan penelitiannya di booth-booth yang disediakan. Pengunjung pameran berasal dari berbagai kalangan, mulai dari ilmuwan, dosen, peneliti, hingga pelajar setingkat SMP yang menjadi observer.

Pantauan wartawan KompasTekno, Reska K. Nistanto, di tempat acara, tak jarang pengunjung datang ke booth peserta Indonesia karena tertarik dengan dandanan peserta Tanah Air.

"Kamu kelihatan cantik, boleh kita bertukar cinderamata?" kata salah seorang pengunjung wanita kepada Adhis Tessa, finalis dari Indonesia yang mengenakan baju khas Sulawesi.

Adhis pun dengan ramah memberikan pin bergambar presiden RI pertama, Soekarno, kepada pengunjung wanita tadi. Cinderamata berupa pin memang menjadi "buruan" peserta dan pengunjung Intel ISEF. Berbagai negara memiliki desain pin yang disesuaikan dengan kekhasan negaranya.

Setelah bertukar cinderamata, Adhis pun menceritakan risetnya tentang hubungan antara adat dan kelangsungan ekologi di daerahnya di Sulawesi.

Reska K. Nistanto/KOMPAS.com Chabib Fachry Albab dan Millah Mu'azzah yang keduanya adalah pelajar SMAN 2 Lamongan, Jawa Timur di ajang Intel ISEF 2016 di Phoenix, Arizona.
Tak hanya Adhis, finalis lain dari Indonesia, yaitu Chabib Fachry Albab dan Millah Mu'azzah dari SMAN 2 Lamongan juga sempat menjelaskan kebudayaan Jawa kepada para pengunjung booth-nya, khususnya senjata tradisional keris.

Burung langka Trulek Jawa yang menjadi obyek penelitiannya memiliki semacam taji di sayapnya, yang oleh kepercayaan setempat dianggap sebagai keris. Kepada pengunjung internasional itulah mereka menjelaskan senjata tradisional Jawa itu.

"Memang ada misinya, mengapa mereka berpakaian seperti itu, untuk mengenalkan kekayaan adat budaya (Indonesia)," kata Rizal Alfian, pendamping tim Indonesia yang juga merupakan analis pengembangan peserta didik di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Tak dinyana, ternyata lewat pameran sains dan teknologi internasional, anak-anak Indonesia pun bisa mengenalkan kekayaan budaya negaranya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.