Norton: "Wearable" Jadi Target Baru Program Jahat

Kompas.com - 21/07/2016, 15:57 WIB
Reska K. Nistanto/Kompas.com Choon Hong Chee, Director, Consumer Business at Symantec Asia Pacific dalam acara jumpa media di Jakarta, Kamis (21/7/2016).

JAKARTA, KOMPAS.com - Norton memprediksi serangan "ransomware" akan banyak menyerang peranti wearable di masa depan, seiring populernya peranti ini dan era era Internet of Things (IoT).

"Prediksi kami, IoT akan menjadi arena baru penyebar ransomware," kata Choon Hong Chee, Director, Consumer Business at Symantec Asia Pacific dalam acara jumpa media di Jakarta, Kamis (21/7/2016).

Menurut pria yang kerab disapa Mr. Chee itu, program-program jahat ke depannya akan semakin banyak yang menyasar peranti-peranti seperti smartwatch, smartband, smart TV, dan sebagainya.

Untuk itu, Norton mengatakan perlu ada suatu pendekatan dua langkah untuk mengurangi risiko keamanan yang ditimbulkan oleh perangkat terhubung. Pertama, sebuah software keamanan yang tertanam untuk keamanan internal perangkat dapat memampukan perangkat untuk menyaring, serta mencegah penyebaran ancaman.

Kedua, dari segi pembuatan, vendor-vendor software besar harus mencari cara untuk memberitahu para pelanggan dan menyediakan patch untuk kerentanan. Produsen perangkat yang terhubung ke internet perlu memberitahu pelanggan mengenai masalah keamanan yang mungkin terjadi, serta merancang cara yang user-friendly untuk menerapkan patch.

Dengan munculnya Internet of Things, kebutuhan yang mendesak saat ini adalah untuk menciptakan suatu kerangka kebijakan dan peraturan yang kuat untuk mengamankan infrastruktur-infrastruktur pemerintah, organisasi, rumah tangga dan individu yang terkoneksi ke internet.

Tren ransomware

Tren penyebaran ransomware sendiri menurut Norton selalu berubah-ubah setiap dua tahun sekali. Di antara tahun 2005 - 2009 dulu, ransomware disebar melalui aplikasi-aplikasi palsu (misleading).

Kemudian pada 2010 - 2011 tren ransomware berubah disebar menjadi antivirus palsu. Pada 2012 - 2013 menjadi locker ransomware, dan pada 2014 - 2015 menjadi crypto ransomware.

"Nah di 2016 ke depan nanti kami memprediksi ransomware akan mulai menyebar melalui peranti IoT atau wearable," kata Chee.

Ransomware adalah program jahat yang bisa memodifikasi atau mengurung perangkat sehingga tidak bisa dipakai oleh pemiliknya.

Agar perangkat bisa dipakai kembali, korban harus membayar atau memberi tebusan yang diminta oleh peretas.

Indonesia sendiri menurut survei yang dilakukan Norton adalah negara peringkat ke-13 di wilayah Asia Pasifik yang sering menerima serangan ransomware, dengan jumlah 14 serangan setiap hari.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


EditorDeliusno

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X