Facebook Bebas Iklan Tapi Berbayar, Mau?

Kompas.com - 09/04/2018, 20:10 WIB
Ilustrasi Facebook The telegraphIlustrasi Facebook
Penulis Oik Yusuf
|

KOMPAS.com - Saat ini, siapa pun bisa menggunakan Facebook dengan gratis. Jalur pemasukan perusahaan jejaring sosial terbesar di dunia ini berasal dari iklan yang disodorkan ke hadapan 2 miliar penggunanya.

Iklan-iklan tersebut menggunakan mekanisme targeting berdasarkan data profil pengguna, sehingga bisa lebih tepat sasaran ke audiens yang dituju. Penggunaan data pribadi ini belakangan mendapat sorotan, setelah menyusul kebocoran data 87 juta penguna Facebook ke tangan pihak ketiga.

Bisakah pengguna Facebook menjaga privasi spenuhnya, bebas dari intipan pengiklan yang mengincar data? COO Facebook, Sheryl Sandberg menjawab sebenarnya bisa saja, tapi pengguna yang bersangkutan mesti rela membayar.

“Kami tak punya opsi keluar (dari targeting iklan berbasis data pribadi) di level tertinggi. Itu pastilah sebuah produk berbayar,” ujar Sandberg dalam sebuah wawancara, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari Fortune, Senin (9/4/2018).

Baca juga: Beredar Ajakan Boikot Facebook, WhatsApp, Instagram pada 11 April

Seperti dikatakan Sandberg, Facebook sendiri saat ini tak menyediakan opsi langganan berbayar. Tak ada indikasi pula bahwa sang jejaring sosial bakal menggelar model penggunaan macam itu, yang bakal menggantikan pemasukan dari iklan menjadi pemasukan dari biaya langganan.

COO Facebook Sheryl Sandberghuffingtonpost.com COO Facebook Sheryl Sandberg

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dalam wawancara yang sama, Sandberg turut membantah anggapan yang banyak beredar bahwa produk utama Facebook sebenarnya adalah data pengguna. “Kami tak pernah menjual data. Kami tak memberikan data pribadi ke pengiklan," ujar Sandberg.

Bagaimana dengan Cambridge Analytica? Facebook disinyalir sudah mengetahui kebocoran data ke Cambridge Analytica sejak 2015. Namun, menurut Sandberg, perusahaan tak mengambil tindakan, lantaran meyakini bahwa Cambridge Analytica sudah menghapus sendiri kumpulan data itu.

“Mereka (Cambridge Analytica) meyakinkan kami, hingga kemudian kami diberi tahu orang lain bahwa itu tidak benar,” kilah Sandberg.

Setelah kasus Cambridge Analytica menyeruak ke publik, Facebook bergegas menerapkan langkah-langkah baru untuk mencegah pencurian data pengguna. Namun, masalahnya belum akan berhenti di situ, karena Sandberg mengatakan pihaknya masih akan menemukan masalah privasi lainnya.

Perkataan Sandberg seolah terbukti karena Facebook awal pekan ini baru saja menangguhkan CubeYou, sebuah pembuat kuis yang juga mengumpulkan data pribadi pengguna seperti Cambridge Analytica.



Sumber Fortune
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X