Aplikasi PeduliLindungi Dinilai Berlebihan Himpun Data Pengguna

Kompas.com - 02/01/2021, 11:02 WIB

Dalam laman COVID Alert, dijelaskan bahwa aplikasi ini hanya mengumpulkan kode acak dari ponsel pengguna selama 14 hari. Tidak ada data lokasi, nama, alamat, nomor kontak, maupun informasi kesehatan yang diambil.

Baca juga: Pandemi Covid-19 Ubah Perilaku Belanja Orang Indonesia

Direktur Jenderal Aplikasi Informatikan (Aptika) Kementerian Komunikasi dan Informatika Semuel Abrijani Pangerapan mengatakan cara kerja aplikasi PeduliLindungi pada dasarnya mirip dengan aplikasi sejenis di negara lain.

"Begini, PeduliLindungi secara konsep hampir sama dengan yang ada diterapkan di negara lain. Terkait dengan adanya data yang dikirim ke pihak ketiga, kami harus cek lebih dahulu,” kata Semuel, dihimpun dari Kompas.id.

Langgar prinsip WHO

WHO, bersama dengan organisasi HAM dan advokat privasi telah membuat pedoman etik bagi para pemerintah di seluruh dunia apabila mereka memanfaatkan aplikasi digital untuk merespons pandemi Covid-19.

Prinsip yang diusung dalam pedoman tersebut adalah data minimization atau pengambilan data sesedikit mungkin oleh aplikasi.

"PeduliLindungi dan StaySafePH memiliki banyak izin berbahaya yang tidak mematuhi prinsip data minimization, karena mereka mengumpulkan lebih banyak data dari yg diperlukan untuk contact tracing secara digital," tulis laporan peneitian tersebut.

Baca juga: Bahaya yang Mengintai Setelah Pesawat Lama Tak Terbang karena Covid-19

Bulan Juni lalu, 13 organisasi HAM, termasuk Article 19, SAFEnet, ELSAM, dan CIVICUS, menyampaikan surat terbuka kepada Menteri Kominfo, Johnny G Plate, terkait kebijakan privasi aplikasi PeduliLindungi.

Mereka menilai aplikasi PeduliLindungi berisiko membahayakan data pangguna. Mereka mendesak kominfo merilis buku putih dan kode sumber PeduliLindungi di bawah lisensi open source.

Mereka juga meminta agar kebijakan privasi aplikasi PeduliLindungi memberikan rincian yang jelas tentang cara pengumpulan, penggunaan, dan penyimpanan data.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
Sumber kompas.id


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.