Harga Bitcoin Turun Drastis, Berkurang Hampir Rp 100 Juta dalam Sehari

Kompas.com - 24/02/2021, 09:40 WIB
Ilustrasi Bitcoin Novikov Aleksey/ShutterstcokIlustrasi Bitcoin

KOMPAS.com - Harga mata uang kripto Bitcoin (BTC) kembali berfluktuasi. Dari pantauan KompasTekno di laman CoinDesk, harga bitcoin sempat menyentuh angka 52.000 dollar AS atau sekitar Rp 731 juta (kurs Rp 14.135) pada Selasa (23/2/2021) pagi.

Namun, pada Selasa petang, harga Bitcoin merosot tajam ke angka sekitar 45.000 dollar AS (sekitar Rp 632 juta). Dengan kata lain, Bitcoin mengalami penurunan nilai sebesar 7.000 dollar AS atau hampir Rp 100 juta di hari yang sama. 

Harga Bitcoin sempat merangkak naik dan kembali turun selang beberapa jam dan tetap berada di bawah 50.000 dollar AS hingga Rabu (24/2/2021) pagi. Nilanya saat berita ini ditulis adalah 49.767 dollar AS (sekitar Rp 699 juta).

Baca juga: Cerita di Balik Keputusan Elon Musk Borong Bitcoin Rp 21 Triliun

Bitcoin meroket pada awal Februari setelah perusahaan mobil listrik Tesla memborong uang kripto itu dengan nilai setara 1,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 21 triliun.

CEO Tesla, Elon Musk, kemudian mengunggah kicauan di Twitter yang kemungkinan mempengaruhi pergerakan harga Bitcoin. "BTC & ETH (Ethereum) terlalu tinggi (harganya)," tulis Musk dengan handle @elonmusk, akhir pekan lalu.

Musk berkicau setelah nilai kapitalisasi pasar bitcoin mencapai 1 triliun dollar AS (sekitar Rp 14.077 triliun) untuk pertama kalinya pada hari Jumat (19/2/2021).

Bitcoin dinilai tidak efisien dan boros energi

Sekretaris keuangan AS, Janet Yallen juga mengutarakan kekhawatirannya terkait mata uang kripto dalam sebuah wawancara.

Dirangkum KompasTekno dari Market Business Insider, Rabu (24/2/2021), Yallen mengatakan bahwa mata uang kripto seperti Bitcoin tidak efisien untuk digunakan sebagai alat pembayaran.

"(Mata uang kripto) Adalah cara yang tidak efisien untuk melakukan transaksi dan jumlah energi yang dikonsumsi untuk memproses transaksi sangat mengejutkan," kata Yellen.

Penambangan mata uang kripto memang membutuhkan listrik yang sangat besar. Universitas Cambridge, dalam sebuah laporan memaparkan bahwa konsumsi listrik yang digunakan untuk menambang Bitcoin lebih banyak ketimbang konsumsi listrik di Pakistan dalam setahun.

Baca juga: PLN Malaysia Merugi Rp 30 Miliar gara-gara Penambang Bitcoin

Penambangan bitcoin dalam setahun membutuhkan 123,64 terra-watt (TWh) listrik, sementara seantero Pakistan hanya mengonsumsi 120,56 TWh per tahun. Yellen juga khawatir Bitcoin digunakan untuk melakukan transaksi gelap.

"Saya tidak berpikir bahwa Bitcoin bisa digunakan seacara luas sebagai mekanisme transaksi," kata Yellen.

Selain Bitcoin, harga mata uang kripto Ether juga turun di hari Selasa. Saat ini, harga Ethereum berada di angka 1.611 dollar AS (sekitar Rp 22,6 juta), turun 5,77 persen dalam 24 jam menurut pantauan CoinDesk.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.