Apa Beda Hasil Foto Kamera Film dan Digital? Halaman 1 - Kompas.com

Apa Beda Hasil Foto Kamera Film dan Digital?

Oik Yusuf
Kompas.com - 08/08/2017, 20:10 WIB
Hasil gambar kamera digital (kiri) bisa memiliki perbedaaan karakter dengan film (kanan), misalnya dalam hal tonal warna kulit (skin tone) subyek orang. Dua foto ini merupakan jepretan salah satu pendiri Soup n Film, Jerry Surya. Karya-karyanya bisa dilihat di akun Instagram @passiononfilm.Jerry Surya Hasil gambar kamera digital (kiri) bisa memiliki perbedaaan karakter dengan film (kanan), misalnya dalam hal tonal warna kulit (skin tone) subyek orang. Dua foto ini merupakan jepretan salah satu pendiri Soup n Film, Jerry Surya. Karya-karyanya bisa dilihat di akun Instagram @passiononfilm.

KOMPAS.com - Teuku Adifitrian atau kerap disapa “Tompi” bergegas mengambil laptopnya ketika hendak menjelaskan perbedaan kamera digital dan kamera film. Memicingkan mata ke arah layar laptop, Tompi berujar singkat “beda aja”.

Tompi yang sebelumnya dikenal sebagai penyanyi jazz dan dokter bedah plastik mulai tertarik bermain kamera film sejak 2014. Belakangan ia bersama tiga kawannya membuka laboratorium cetak foto film bertajuk Soup N Film.

Kepada KompasTekno, Tompi mengatakan kualitas gambar yang dihasilkan kamera film dan digital tak bisa serta-merta dibandingkan. Masing-masing punya karakteristik berbeda, tak ada yang lebih baik atau lebih buruk.

“Selayaknya nggak dibandingkan. Ini kayak membandingkan buah-buahan sama binatang,” kata dia pada KompasTekno beberapa saat lalu. (Baca: Era Digital, Kenapa Anak Muda Kembali ke Kamera Analog?)

Tompi sendiri tertarik mendalami kamera film karena menyukai karakter warna yang dihasilkan. Hal ini disepakati pendiri Soup N Film lainnya bernama Jerry Surya.

“Banyak orang pakai kamera digital lalu fotonya diedit biar warnanya keliatan vintage. Kalau pakai kamera film, nggak usah edit langsung dapat look yang begitu secara natural,” kata Jerry saat ditemui di laboratorium dark room Soup N Film.

Tompi dan Jerry mengatakan perbedaan kamera film dan kamera digital lebih bisa dijelaskan jika ditilik dari proses penjepretannya. Kamera digital menawarkan proses yang lebih instan, sementara kamera film cenderung lebih panjang.

Lebih lanjut, berikut beberapa perbedaan kamera analog dan kamera digital yang bisa diuraikan.

Pertama, bentuk hasil akhir. Gambar hasil akhir kamera digital berupa data digital yang bisa langsung diakses dan dipindah-pindahkan ke perangkat digital lain semisal komputer atau smartphone. Data digital ini biasanya disimpan dalam kartu memori yang mampu menampung hingga ribuan gambar, tergantung ukuran file foto dan kapasitas memory card.

Hasil akhir kamera film berupa gambar laten di lembaran film yang mesti dimunculkan dan dibuat permanen lewat proses development dengan sejumlah cairan kimia, kemudian diperbesar (enlarge) sesuai kebutuhan untuk dicetak di kertas film. Jumlah frame foto film yang bisa disimpan dalam satu media (roll film) jauh lebih sedikit dibandingkan kamera digital (kartu memori). Satu roll film 135 misalnya, hanya berisi 36 frame.

Proses menuju hasil akhir pada kamera film memang lebih rumit, tapi sekaligus menambahkan satu tahapan yang bisa dimanfaatkan untuk memodifikasi tampilan foto final, yakni proses pencucian.

Keterbatasan jumlah frame yang tersedia juga umumnya menyebabkan pengguna kamera film lebih berhati-hati dan banyak pertimbangan sebelum menekan tombol shutter. Sebagian orang berpendapat hal ini menyebabkan tiap frame foto film cenderung lebih bagus secara estetika karena dipertimbangkan secara matang.

“Pada saat saya foto dengan kamera digital, saya akan mengambil gambar sebanyak mungkin untuk kemudian pilih yang terbaik. Proses memilihnya bisa lebih lama dari proses fotonya. Beda dengan kamera film, di mana saya mikir dulu baru memotret,” Tompi menuturkan.

Kedua, “noise" dan “grain”. Pada hasil jepretan kamera digital dan analog, kadang muncul “tesktur” berupa bintik-bintik. Di foto digital, bintik-bintik ini lazim disebut noise. Asalnya dari gangguan sinyal yang dihasilkan oleh sirkuit elektronik penangkap gambar, entah karena panas atau perubahan sinyal listrik. (Baca: Istilah-istilah Kamera Analog yang Perlu Diketahui)

Tekstur bintik-bintik serupa di jepretan kamera film disebut sebagai “grain”. Sebabnya bukan berakar dari gangguan sinyal, melainkan partikel-partikel kimia dalam lembaran film.

Noise dan grain biasanya makin tampak apabila sensitivitas sensor atau film meningkat. Film ASA 400 misalnya, cenderung memiliki grain berukuran lebih besar dan lebih terlihat dibandingkan film ASA 100.

Kendati bisa mengganggu, kemunculan tekstur bintik-bintik ini sering pula dengan sengaja dimanfaatkan untuk menambah efek artistik, utamanya pada foto hasil jepretan kamera film.

Page:
Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisOik Yusuf
EditorDeliusno
Komentar