Apa Beda Hasil Foto Kamera Film dan Digital? Halaman 2 - Kompas.com

Apa Beda Hasil Foto Kamera Film dan Digital?

Oik Yusuf
Kompas.com - 08/08/2017, 20:10 WIB
Hasil gambar kamera digital (kiri) bisa memiliki perbedaaan karakter dengan film (kanan), misalnya dalam hal tonal warna kulit (skin tone) subyek orang. Dua foto ini merupakan jepretan salah satu pendiri Soup n Film, Jerry Surya. Karya-karyanya bisa dilihat di akun Instagram @passiononfilm.Jerry Surya (@passiononfilm) Hasil gambar kamera digital (kiri) bisa memiliki perbedaaan karakter dengan film (kanan), misalnya dalam hal tonal warna kulit (skin tone) subyek orang. Dua foto ini merupakan jepretan salah satu pendiri Soup n Film, Jerry Surya. Karya-karyanya bisa dilihat di akun Instagram @passiononfilm.

Ketiga, dynamic range. Dynamic range adalah rentang tonal yang bisa ditangkap oleh sensor kamera atau film dari titik paling terang ke yang paling gelap. Kemampuan dynamic range, misalnya, menentukan apakah subjek foto yang mengalami backlight akan gelap total atau masih terlihat raut wajahnya.

Semakin tinggi dynamic range, semakin baik pula kemampuan sensor kamera digital atau film untuk menangkap semua detil foto di area gelap dan terang.

Dynamic range kamera digital awalnya tertinggal dari film. Namun sensor digital modern kini sudah mampu menghasilkan dynamic range yang bisa menandingi atau melewati kemampuan film.

Kamera digital dan gadget modern saat ini juga sudah banyak dibekali fitur High Dynamic Range (HDR) untuk memperluas dynamic range dengan menjepret beberapa foto dengan exposure berbeda dan menggambungkan hasilnya menjadi satu frame akhir.

Keempat, sensitivitas terhadap cahaya. Seperti film, sensor kamera digital memiliki ukuran sensitivitas terhadap cahaya. Standar yang digunakan sama, yakni ISO (ASA). Sensitivitas sensor digital saat disetel di angka ISO 200 sama dengan film ISO/ASA 200, demikian juga sebaliknya.

Di kamera digital, rating sensitivitas ini berlaku untuk sensor dan bisa diubah-ubah kapanpun sesuai keinginan. Di kamera analog, rating sensitivitas hanya bisa diubah dengan mengganti film yang bersangkutan karena masing-masing film memiliki rating sensitivitas individual yang berbeda, misalnya ASA 50 dan ASA 400. Film modern biasanya tersedia dalam rating sensitivitas ISO 50 hingga 3.200.

Sensor digital memiliki sensitivitas maksimum yang bisa jauh lebih tinggi, mencapai kisaran ratusan ribu. Semakin tinggi sensitivitas, maka semakin peka pula sensor/film terhadap cahaya sehingga pengguna bisa memotret dalam kondisi lebih gelap atau menjaga kecepatan shutter di kisaran tinggi.

Kecepatan shutter yang tinggi biasanya digunakan untuk "membekukan" tampilan subjek yang bergerak cepat sehingga tidak buram karena motion blur. (Baca: Menghitung Biaya Sebelum Memulai Hobi Kamera Analog)

Kelima, karakter. Jerry Surya membagikan beberapa foto yang ia bidik menggunakan kamera digital dan kamera film. Anda bisa membandingkan sendiri hasilnya sebagai berikut.

Foto di atas merupakan jepretan salah satu pendiri Soup n Film, Jerry Surya. Karya-karyanya bisa dilihat di akun Instagram @passiononfilm.

Film memiliki “karakter” tampilan yang berbeda-beda antar merek dan jenisnya. Film slide Fujifilm seri Velvia, misalnya, dikenal menghasilkan warna dengan saturasi dan kontras tinggi sehingga tampak mencolok dan sesuai untuk foto-foto pemandangan.

Film negatif Kodak Portra cenderung menghasilkan warna dan kontras lebih halus yang cocok untuk dipakai memotret orang. Sementara, film negatif hitam-putih Kodak Tri-X memiliki karakter kontras dan grain yang terlihat agak kasar tapi banyak disukai.

Sensor kamera digital pun memiliki karakter, tergantung tipe dan konstruksi sensor, serta software pengolah gambar yang digunakan untuk menghasilkan foto akhir. Masing-masing pabrikan kamera digital punya “resep” olahan gambar sendiri untuk menghasilkan tampilan yang khas.

Karakter jepretan kamera digital bersifat permanen karena sensor biasanya tidak bisa diganti. Sebaliknya, pengguna kamera film bisa dengan mudah berganti jenis film untuk mendapatkan karakter foto yang dicari.

Menurut pehobi kamera analog sekaligus pendiri ruang kreatif “Saka Space”, Fahmy Siddiq (24), kamera digital dan analog sejatinya untuk saling melengkapi, bukan mengalahkan.

“Orang-orang yang hobi fotografer bisa punya referensi yang lebih kaya. Penggunaan kamera digital dan analog tergantung kebutuhan masing-masing,” ia menjelaskan.

Page:
Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisOik Yusuf
EditorDeliusno
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM