Jualan Musik, Lebih Ramai di Digital

Kompas.com - 21/12/2013, 10:47 WIB
Toko musik Aquarius di Jalan Mahakam, Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, menggelar diskon hingga 50 persen sejak awal Desember 2013 hingga pengelolanya akan menutupnya pada akhir Desember 2013 karena merugi terus sedari dua tahun lalu. KOMPAS IMAGES/VITALIS YOGI TRISNAToko musik Aquarius di Jalan Mahakam, Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, menggelar diskon hingga 50 persen sejak awal Desember 2013 hingga pengelolanya akan menutupnya pada akhir Desember 2013 karena merugi terus sedari dua tahun lalu.
EditorWicak Hidayat
KOMPAS.com - Distribusi dan cara menikmati musik sudah bergeser dari semula dalam bentuk album fisik menjadi musik digital.

Bila dulu seseorang membeli album fisik di toko kaset, sekarang mereka memilih mendapatkannya dari Internet baik mengunduh secara legal maupun ilegal.

"Tadinya beli album sekarang bergeser ke streaming. Konsumen nggak perlu lagi memiliki musik yang mereka dengar," kata Chief Editor DailySocial Aulia Masna dalam Seminar Musik Digital yang diadakan Believe Digital, perusahaan yang bergerak di layanan dan distribusi digital musisi dan label independen.

Mendengarkan musik secara streaming memiliki keunggulan tersendiri bagi konsumen. Streaming berbeda dengan mengunduh. Secara teknis, aktivitas streaming memang tidak lepas dari mengunduh, hanya saja konsumen tidak perlu menyimpannya di hard drive.

"Ketika men-download, kita harus mikirin storage di hard drive. Semakin banyak downlod, harus banyak juga storage," katanya.

Streaming, lanjutnya, menjadi pasar baru bagi masa depan musik, khususnya di Indonesia. Melalui streaming, musik digital dapat dinikmati kapan pun selama perangkat mendukung.

Menurut Aldo Sianturi, Country Manager Believe Digital, melalui streaming, karya seorang musisi yang awalnya baru dapat dinikmati di negeri sendiri, dalam waktu yang relatif singkat dapat didengar dunia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Diah Isnaemi, Marketing Digital Virgo Ramayana Music & Entertainment, berpendapat bahwa musik digital menawarkan alur distribusi yang lebih ringkas.

Ia mencontohkan ketika membuat sejumlah kopi album fisik, selain mengeluarkan biaya produksi, perusahaan rekaman juga kembali mengeluarkan biaya distribusi dan juga strategi pemasaran. Ketika album tersebut habis, mereka pun harus mencetak ulang.
Bila dihitung dari segi biaya, pembuatan album fisik sedikit lebih banyak daripada album streaming. Tetapi, dari segi keuntungan, tidak terlalu jauh.

Meski menjanjikan, Aulia melihat masih ada masalah mengenai pembayaran musik digital. Pasalnya, penetrasi kartu kredit di Indonesia tidak sebanyak di negara asing. Dengan kata lain, tidak semua lapisan masyarakat menggunakan kartu kredit.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.