Jumlah Kecelakaan Pesawat di Indonesia Naik 2 Kali Lipat dalam 2 Tahun

Kompas.com - 30/12/2016, 17:04 WIB
|
EditorDeliusno

KOMPAS.com - Jumlah kecelakaan pesawat udara meningkat dua kali lipat dalam periode dua tahun terakhir, atau 2014 hingga 2016. Informasi tersebut tercantum dalam data yang dirilis oleh Komite Nasional keselamatan Transportasi (KNKT) pada November 2016 lalu.

Menurut KNKT, jumlah kecelakaan pesawat udara pada 2014 sebanyak sembilan kejadian. Pada 2015, angkanya naik menjadi 11 kejadian. Hingga akhirnya pada 2016 ini menjadi 15 kejadian, atau naik lebih dari dua kali lipat dibanding 2014 saat era menteri Kabinet Kerja Presiden Jokowi dimulai.

Sementara untuk kategori insiden serius, jumlahnya cenderung stabil. KNKT mencatat 23 kejadian insiden serius pada 2014. Jumlahnya sempat turun sebanyak 17 kejadian pada tahun berikutnya. Namun pada 2016, angkanya naik menjadi 26 kejadian.

Kecelakaan paling fatal terjadi pada 28 Desember 2014 lalu yang dialami oleh maskapai AirAsia Indonesia. Airbus A320 nomor penerbangan QZ8501 hilang kontak saat menempuh rute Surabaya - Singapura. Pesawat ditemukan jatuh di Selat Karimata. Seluruh 155 penumpang dan tujuh awak pesawat meninggal.

Baca: Ini Analisis Lengkap Kecelakaan AirAsia QZ8501

Jumlah kecelakaan pesawat udara sebenarnya sempat menurun sebelum tahun 2014. KNKT merilis data jumlah kecelakaan dalam rentang 2010 hingga 2016. Pada 2010, jumlah kecelakaan sebanyak delapan kejadian.

Angka itu naik drastis menjadi 19 kejadian pada 2011, namun perlahan menurun di tiga tahun berikutnya, yakni masing-masing 13 kejadian pada 2012, sembilan kejadian pada 2013, dan tujuh kejadian pada 2014.

KNKT Data jumlah kecelakaan pesawat udara di Indonesia 2010-2016 versi KNKT.
Dari rentang 2010 hingga 2014, kebanyakan kecelakaan atau insiden serius yang diinvestigasi KNKT adalah runway excursion, sebanyak 40,09 persen. Runway excursion adalah peristiwa pesawat tergelincir ke luar landasan, baik saat mendarat atau akan take off.

Peristiwa kecelakaan/insiden serius terbanyak kedua oleh KNKT dimasukkan ke dalam kategori lain-lain, seperti disebabkan oleh bahan bakar, tabrakan di darat, turbulensi, undershoot/overshoot, windshear/thunderstorm, dan sebagainya.

Sementara kecelakaan/insiden serius terbanyak ketiga adalah kategori controlled flight into terrain (CFIT), yakni peristiwa pesawat menabrak dataran (tebing/gunung) saat pesawat masih dalam kontrol, biasanya dikarenakan oleh jarak pandang yang terbatas.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.