Kompas.com - 03/08/2017, 11:23 WIB
|
EditorReza Wahyudi

“Pas lihat hasil cucinya, bisa sesuai ekspektasi, melebihi ekspektasi, atau nggak sesuai. Jadinya seru,” ia menjelaskan.

“Kadang juga ada efek throwback-nya. Suka lupa pernah foto seperti itu dan baru ingat lagi pas lihat hasil cuci roll-nya,” ia menambahkan.

Jika Fahmy dan Azmi masih sekadar menjadi penghobi kamera analog, Renaldy Fernando sudah membawa hobinya ke ranah bisnis dengan membuka blog dan toko perkakas kamera analog bertajuk “jellyplayground”.

Renaldy mulai main kamera analog sekitar akhir 2008. Ia mengaku kala itu tak punya duit membeli kamera digital, sehingga memilih kamera analog yang terhitung lebih murah.

“(Pada zaman itu) ada kamera analog yang saya beli seharga Rp 15.000,” kata Renaldy.

Renaldy mengaku bukanlah penikmat menunggu proses seperti Fahmy dan Azmi. Meski demikian, ia harus rela mengikuti semua proses dari isi roll hingga mencucinya untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.

“Menjepret dengan kamera analog memberi kita kesempatan untuk berpikir dan menduga-duga hasil foto kita nantinya. Selain itu, kamera analog juga memberikan kita pilihan roll film yang bisa kita gunakan sesuai kebutuhan dan keperluan masing-masing,” Renaldy menjelaskan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

 

#tatapmatasaya ???? #35mm #canonae1p

A post shared by Renaldy Fernando (@renaldyfk) on Jul 29, 2017 at 8:31am PDT


Terlepas dari keriaan kamera analog saat ini, baik Fahmy, Azmi, dan Renaldy sepakat bahwa tren kamera analog sulit mengalahkan popularitas kamera digital saat ini. Pasalnya, kamera digital terus berkembang masif dengan beragam pilihan yang diberikan.

Sementara itu, kamera analog memiliki keterbatasan baik itu dari segi kelangkaan roll film di pasaran, hingga medium kameranya sendiri yang lebih sulit ditemukan ketimbang kamera digital.

“Sejarah nggak mungkin keulang karena zaman pasti maju terus. Kamera analog mungkin bukan diposisikan sebagai saingan kamera digital tapi justru sebagai pelengkap. Masyarakat zaman sekarang jadi lebih kaya referensi dan bisa memanfaatkan kamera sesuai kebutuhannya,” kata Fahmy Siddiq.

 

1st trial MX with Kodak Funsaver #disposablecamera _ dev : @hipercatlab #hipercatlab #indo35mm

A post shared by Film Photography (@jellyplayground) on Jul 15, 2017 at 2:43am PDT


Sejalan dengan itu, Renaldy pun yakin fotografi analog punya penggemarnya sendiri yang meski tak banyak tapi loyal. Jika saat ini hobi itu menjadi tren di Instagram, Renaldy pun turut senang asalkan sifatnya tak sementara.

“Kalau bisa melihat teman-teman yang mulai dan udah bagus-bagus hasilnya, saya senang. Semoga banyak yang bertahan dengan kamera analog, bukan tren semata,” Renaldy memungkasi.

Catatan: Artikel ini adalah bagian dari Liputan Khusus KompasTekno soal "Tren Kamera Analog di Era Digital". Artikel-artikel lain soal seluk-beluk tren kamera analog bisa dipantau di tautan ini.


Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.