Kompas.com - 16/05/2018, 20:07 WIB
Ilustrasi WhatsApp. IstIlustrasi WhatsApp.

Fitur yang dimaksud adalah kontak anonim yang hanya bisa mengidentifikasi nomor ponsel, grup WhatsApp yang bisa menampung 256 anggota dan bisa dengan mudah menambah anggota baru dengan hanya mengetahui nomor ponselnya saja.

Beberapa orang memiliki kecenderungan bergabung dengan banyak grup di WhatsApp, sehingga tak menutup kemungkinan mereka mendapat pesan yang sama berulang kali. Hal itulah yang diharapkan bisa mempengaruhi pandangan pemilih dalam konteks pemilu.

Rentetan pesan berantai pun sulit ditelusuri siapa pengirim pertamanya. Pesan terenkripsi membuat pesan hoaks berantai "terlalu aman" untuk terus beredar. Sebab, aparat penegak hukum tak bisa melihat isi pesan tanpa melihat langsung ke layar ponsel.

WhatsApp berbahaya untuk menyebar informasi palsu

Menjelang pemilu Karnataka yang bergulir 12 Mei 2018, partai BJP dan Congress mengklaim telah menyiapkan masing-masing sekitar 5.000 grup WhatsApp. Grup-grup tersebut dijadikan senjata pelontar pesan hoaks berupa video, audio atau artikel palsu yang dirancang untuk menimbulkan keresahan antar dua umat mayoritas.

Baca juga: Tak Hanya Indonesia, India Juga Kewalahan Perangi Hoax di WhatsApp

Dari data India Population tahun 2011, penduduk Hindu di Karnataka mencapai 84 persen, sementara penduduk terbesar kedua adalah muslim dengan persentase 13 persen.

"WhatsApp bekerja layaknya reaktor nuklir," kata jubir partai Congress, Randeep Singh Surjewala.

Tak jauh berbeda, menurut pendiri situs fact-check Boom dan IndiaSpend, Govindraj Ethiraj, WhatsApp menjadi alat berbahaya karena menyebarkan informasi palsu. Boom bekerja sama dengan Facebook selama pemilu Karnataka untuk membantu menyaring beredarnya berita palsu yang merebak di Instagram dan Facebook.

CEO Facebook, Mark Zuckerberg berjanji untuk mengekang penyalahgunaan Facebook dan Instagram yang berpotensi mempengaruhi para pemilih, namun Zuckerberg tak menyebut anak perusahaannya, WhatsApp untuk melakukan hal yang sama.

Beberapa pekan lalu, WhatsApp mendeteksi adanya seseorang di Karnataka yang berupaya membuat lusinan grup WhatsApp dengan cepat menggunakan otomatisasi.

Setelah beberapa pengguna WhatsApp mengaku mendapat pesan spam dari grup tersebut, WhatsApp kemudian memblokir semua grup itu tanpa menyebut dalang di balik produksi grup WhatsApp.

"Kami memberikan keleluasaan bagi orang-orang untuk mengontrol grup dan terus-menerus mengembangkan alat kami untuk memblokir konten otomatis," ujar perwakilan WhatsApp.

Seberapa efektif?

Tak dipungkiri, sulit menakar pengaruh bombardir pesan WhatsApp yang beredar selama pemilu di Kartanaka, terhadap hasil akhir pemilu.

Menurut peneliti senior, Neelanjan Sircar yang meneliti perilaku pemilih untuk Centre for Policy Research di New Delhi, India, pesan yang membanjiri WhatsApp kemungkinan tidak mengubah pandangan politik pemilih.

WhatsApp hanya akan mendorong emosi Pemilu dan meningkatkan jumah pemilih di daerah-daerah yang didominasi kasta tertentu. Selain itu, ia menyebut jika WhatsApp hanya akan berperan untuk memicu kerusuhan antar kelompok.

Baca juga: Pesan Perpisahan Zuckerberg untuk Pendiri WhatsApp

Dihimpun KompasTekno dari New York Times, Rabu (16/6/2018), pemerintah Karnataka mengklaim jika jumlah pemilih tahun 2018 mencapai 72 persen, tertinggi sejak 1952.

Bertolak belakang dengan Sricar, menurut Bhat, WhatsApp sangat efektif untuknya. Setelah penutupan polling Sabtu lalu, ia sesumbar jika pesan yang disebarkannya kepada 60 pemilih, berhasil membujuk 47 di antaranya untuk "mencoblos" BJP.

Ia pun mengaku, 13 pemilih bukanlah pendukung BJP sebelumnya. "Saya berhasil meyakinkan mereka untuk memilih BJP," aku Bhat.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X