20 Skandal Facebook Sepanjang Tahun 2018

Kompas.com - 26/12/2018, 09:29 WIB
CEO Facebook Mark Zuckerberg saat memberikan kesaksian di depan senat atas skandal kebocoran data pengguna Facebook oleh Cambridge Analytica. Brendan Smialowski / AFPCEO Facebook Mark Zuckerberg saat memberikan kesaksian di depan senat atas skandal kebocoran data pengguna Facebook oleh Cambridge Analytica.

Facebook kembali kehilangan salah satu pejabat tingginya. Setelah tahun lalu pendiri WhatsApp, Brian Acton mundur dan disusul Jan Koum, kini giliran pendiri Instagram melakukan hal yang sama.

Adalah duo Kevin Systrom dan Mike Krieger yang sebelumnya menjabat sebagai CEO Instagram. Keduanya merupakan pendiri Instagram sebelum akhirnya diakuisisi Facebook pada tahun 2012.

Baca juga: 2 Pendiri Instagram Resmi Mundur, Ini Alasan Mereka

Tidak jelas alasan keduanya mundur. Mereka hanya mengatakan ingin rehat dan mencoba hal baru.

"Anda tidak mungkin meninggalkan pekerjaan karena semuanya luar biasa," tulis Kevin dalam rilis Instagram.

Namun rumor beredar bahwa mundurnya Systrom dan Krieger lantaran dominasi Zuckerberg sebagai orang nomor satu di perusahaan Facebook yang menaungin Instagram dan WhatsApp.

Sebab, di bulan yang sama, Brian Acton buka-bukaan bahwa alasanya mundur dari Facebook karena kekuasaan Zuckerberg dan model bisnis yang dijalankan. Mundurnya Krieger dan Systrom disusul pendiri Oculus, yakni Palmer Luckey.

16. Data 30 juta pengguna dibobol peretas (September)

Sekelompok hacker mengekploitasi serangkaian bug yang membuka akses ke 30 juta akun Facebook.

Pembobolan ini memungkinkan para hacker mengambil alih akun mereka dan membuka akses ke aplikasi pihak ketiga yang menggunakan log in Facebook. Atas kasus ini, Facebook mengatakan bekerja sama dengan FBI untuk mengidentifikasi para pelaku.

17. "Mark up" jumlah penonton video

Pada tahun 2016, Facebook mengklaim bahwa rata-rata waktu menonton penggunanya meningkat. Namun akhirnya Facebook mengakui telah melebih-lebihkan angkanya.

Hal itu membuat geram para pengiklan sekaligus penerbit yang mulai berbondong-bondong berpindah haluan ke konten video. Faceook diketahui mengetahui miskalkulasi ini sejak lama sebelum akhirnya terkuak media.

Akhirnya para pengiklan menggungat Facebook atas "markup" matrik penonton video di platform Facebook. Namun Facebook menanggapi bahwa gugatan tersebut tidak berdasar.

18. Tudingan menutupi Skandal Rusia (November)

Lagi-lagi Facebook diseret ke pusaran politik Rusia-AS. Pada bulan November, Chief Operating Officer Facebook, Sheryl Sandberg disebut menutup bukti intervensi Rusia pada pemilu AS 2016.

Beberapa laporan menyebut Sandberg murka para kepala keamanan siber, Alex Stamos.
Ia menuduh Stamos sembarangan melakukan inevstigasi kasus tersebut tanpa izin.

Sandberg juga disebut berteriak kepada Stamos karena ia mengungkap terlalu banyak informasi ke beberapa anggota dewan. Pengakuan tersebut dianggap Sandberg sebagai sebuah pengkhianatan.

Dalam laporan yang sama disebutkan pula Facebook diam-daim menggunakan jasa firma Public Relation bernama Definers Public Affairs untuk melakukan kampanye hitam terhadap George Soros yang sering mengkritik Facebook.

Akibat laporan ini, beberapa investor pun meminta Zuckerberg untuk melepas jabatan sebagai chairman.

18. Aplikasi bikini baru ketahuan (Desember)

Pada tahun 2015, pengembang sebuah aplikasi yang memungkinkan pengguna mencari foto pengguna berbikini, menggugat Facebook di pengadilan California.

Aplikasi bernama Pikinis yang dikembangkan perusahaan bernama Six4Three itu mengaku bahwa aplikasinya rusak setelah Facebook mengganti kebijakan.

Pikinis harus ditutup karena Facebook telah megubah pengaturan privasi, yang mencegah para pengembang memanfaatkan data pengguna tanpa mereka sadari. Kebijakan itu membuat aplikasi tersebut kini mati.

Ternyata, gugatan tersebut berjalan diam-diam dan baru ketahuan akhir November lalu setelah parlemen Inggris menyita dokumen yang telah disegel tersebut dari Six4Three.

Ted Kramer, pendiri Six4Three yang membuat aplikasi Pikinis justru menghadapi masalah hukumnya sendiri setelah menyerahkan dokumen tersebut ke Parlemen Inggris.

Di dokumen yang sama, Parlemen Inggris mempublikasikan dokumen setebal 250 halaman berisi e-mail internal Facebook dan file lainnya, termasuk e-mail pribadi Mark Zuckerberg.

Dalam e-mail tersebut terungkap bahwa Facebook menawarkan pengiklan besarnya akses khusus untuk menggunakan data pengguna.

Facebook mengatakan bahwa konteks pada e-mail tersebut kurang lengkap. Zuckerberg menegaskan ke parlemen Inggris bahwa perusahaannya tidak pernah menjual data pengguna.

19. "Bug" bikin aplikasi bisa intip foto pengguna (Desember)

Di penghujung akhir tahun, lagi-lagi Facebook harus didera masalah privasi. Facebook mengatakan terdapat bug di API Facebook yang membuka peluang foto-foto penggunanya bisa diintip oleh 1.500 aplikasi pihak ketiga.

Foto yang bisa diakses pun tak hanya foto yang diunggah di lini masa saja, namun di Facebook Stories dan bahkan foto yang belum sempat diunggah sempurna karena proses unggahan dihentikan.

Baca juga: Gara-gara Bug, Foto 6,8 Juta Pengguna Facebook Bisa Diintip

Peluang akses diberikan setelah pengguna menggunakan log in Facebook melalui aplikasi ketiga. Facebook menjelaskan dalam rilisnya bahwa bug tersebut telah bersembunyi sejak 13 September lalu dan baru ditemukan 25 September.

20. Tudingan Spotify dan Netflix bisa baca data pengguna (Desember)

Masih di bulan yang sama, pada pertengahan Desember lalu, sebuah laporan dari New York Times mengungkap adanya dugaan Facebook memberikan akses ke sejumlah aplikasi pihak ketiga ke data pribadi pengguna.

Facebook mencatat ada 150 perusahaan, termasuk Amazon, Microsoft, Netflix, dan Spotify.
Spotify dan Netflix diduga sempat memiliki akses untuk membaca pesan langsung pengguna Facebook yang log in dengan akun Facebook.

Baca juga: Facebook Izinkan Spotify dan Netflix Intip Percakapan Pribadi Pengguna?

Facebook tidak membantah bahwa para pihak ketiga mendapatkan akses ke pesan pengguna tapi tidak ada bukti bahwa data tersebut disalahgunakan para pihak ketiga.

Sedangkan Spotify dan Netflix mengatakan tidak tahu bahwa mereka memiliki akses untuk membaca pesan pengguna. Netflix menyebut bahwa fitur yang terintegrasi dengan Facebook sudah dihapus sejak tahun 2015.

Netflix juga mengklaim tidak pernah mengakses pesan pribadi orang-orang di Facebook atau meminta akses untuk melakukannya.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Sumber Wired
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X