Grab Tak Terusik Ekspansi Go-Jek ke Thailand

Kompas.com - 06/03/2019, 18:04 WIB
Ilustrasi GrabBike Dok. GrabIlustrasi GrabBike

JAKARTA, KOMPAS.com - Akhir Februari lalu, startup ride-hailing asal Indonesia, Go-Jek resmi melebarkan sayapnya ke Thailand. Negeri Gajah Putih itu menjadi negara ketiga Go-Jek selain operasionalnya di Indonesia.

Selain di Thailand, Go-Jek telah melakukan ekspansi ke Singapura dan Vietnam. Namun ekspansi Go-Jek tersebut tak membuat gentar pesaingnya, Grab.

"Saya rasa pasar seperti Thailand tidak berdampak secara bisnis terhadap kami," ujar Anthony Tan, Co-Founder dan CEO Grab ditemui KompasTekno di Jakarta, Rabu (6/3/2019).

Ia sesumbar bahwa Grab masih bertengger sebagai perusahaan ride-hailing nomor satu dan terpopuler di Asia Tenggara.

Baca juga: Dapat Investasi Rp 63 Triliun, Grab Klaim Jadi Decacorn Pertama di Asia Tenggara

"Anda bisa melihat laporan media internasional lain ketika mereka menanyakan langsung ke pelanggan kami di lapangan, tidak ada orang yang pakai layanan lain. Dari riset pihak ketiga, kami masih menjadi ride hailing dan super apps terpopuler di Asia Tenggara," imbuhnya.

Ekspansi Go-Jek di Asia Tenggara bisa dikatakan masih terlalu dini untuk diukur dampaknya, dan dibandingkan dengan eksistensi Grab yang lebih lama di regional Asia Tenggara. Grab sendiri telah memasuki pasar Thailand, Filipina, dan Indonesia sejak 2013-2014.

Ditambah, bisnis Grab melesat tajam setelah mengakuisisi bisnis Uber di Asia Tenggara, awal tahun lalu. Hal ini diakui oleh Ridzki Kramadibrata, President of Grab Indonesia.

"Kepercayaan masyarakat terhadap Grab juga semakin meningkat, dan itu menjadi batu loncatan bagi Grab sebagai super apps," ujarnya.

Secara keseluruhan, Grab mengklaim bahwa pendapatannya tumbuh dua kali lipat dari Maret hingga Desember 2018 sejak mengakuisisi Uber. Pendapatan GrabFood disebut tumbuh 45 kali lipat di periode yang sama.

Baca juga: Go-Jek Resmi Meluncur di Thailand dengan Nama Get

Pertumbuhan juga terjadi di layanan Grab Financial Group yang nilai transaksinya disebut mencapai lima kali lipat. Pun halnya dengan GrabExpress, di mana volume pengiriman instant daily dan same-day delivery miliknya diklaim naik tiga kali lipat di tingkat regional.

Kendati demikian, Ridzki mengklaim pihaknya tak memikirkan masuknya kompetitor, dan fokus memberikan layanan ke penggunanya. Hal senada juga diungkapkan Anthony.

"Saya pikir kami hanya akan fokus untuk memberikan layanan kepada kostumer kami," pungkasnya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X