Seberapa Penting Ponsel Ber-NFC di Indonesia?

Kompas.com - 22/07/2019, 11:24 WIB
Ilustrasi NFC. IstimewaIlustrasi NFC.

KOMPAS.com - "Ada yang hp-nya support NFC enggak?", tanyaku pada beberapa teman, saat kami buka puasa bersama bulan Ramadhan lalu di Solo.

Niat hati ingin mengecek saldo e-money untuk memastikan tetap terisi saat kembali ke Jakarta, karena mengandalkan commuter line untuk bepergian jarak jauh.

"Apa itu NFC?", sahut seorang teman.

Agak sulit menjelaskan secara singkat apa itu NFC, apalagi bagi pengguna di kota-kota non-metropolitan, seperti Solo, di mana fasilitas yang memanfaatkan NFC juga tidak sebanyak di Jakarta.

Near Field Communications

NFC alias "Near Field Communication" adalah salah satu fitur yang memungkinkan komunikasi pertukaran data dari jarak dekat, mulai dari bertukar file seperti kontak nama, foto/video/dokumen antar ponsel, hingga ke transaksi pembayaran elektronik.

Ia bisa menghubungkan dua perangkat yang saling kompatibel, di mana satu bertindak sebagai transmitter dan satu lagi sebagai penangkap sinyal.

Baca juga: Daftar Ponsel Ber-NFC yang Beredar di Indonesia

Di kota-kota besar, manfaat NFC memang lebih terasa. Terutama untuk pembayaran cashless ( non-tunai) yang masih menggunakan kartu fisik. Paling sering, NFC digunakan untuk mempermudah pengisian saldo (top-up) kartu elektronik, seperti e-money maupun e-toll.

"Sering sih, malah bisa dibilang setiap saat. Karena saya bisa ngisi itu di mobil dan dimana-mana," kata Desmal Andi, salah satu pengamat gadget yang mengaku ketergantungan dengan NFC.

Berkat NFC, ia bisa lebih hemat waktu saat diperjalanan, tanpa harus berhenti di ATM atau mini market untuk isi ulang saldo e-money atau e-toll. Terutama saat musim mudik lalu, di mana ia harus melewati tol Trans Jawa yang mewajibkan penggunanya menggunakan e-toll untuk transaksi.

Pendapat senada juga diamini Hafidz Wahyu Nur Cholis, mahasiswa S2 di sebuah perguruan tinggi negeri di Solo.

"Enggak ribet karena simple, (hp) dipegang kemana-mana," jawabnya ketika ditanya mengapa memilih menggunakan NFC ketimbang transaksi tradisional.

Transaksi non-tunai menggunakan kartu e-toll cuma butuh waktu 2-3 detik(GARRY ANDREW LOTULUNG/Kompas.com) Transaksi non-tunai menggunakan kartu e-toll cuma butuh waktu 2-3 detik

Kesenjangan

Tapi pengalaman NFC Hafidz berbeda dengan Desmal. Sebab, di kota non-metropolitan seperti Solo, belum banyak fasilitas umum yang mendukung fitur NFC.

Baca juga: Apa Itu NFC di Smartphone dan Kegunaannya

"Kalo untuk e-money, masih belum banyak merchant yang support. Jadi, ya kurang signifikan dan maksimal fungsi dan keberadaan NFC," aku Hafidz, saat dihubungi KompasTekno melalui pesan singkat.

Ia lebih sering menggunakan NFC ketika bepergian lewat jalur tol untuk top up atau sekadar mengecek saldo e-money.

Kesenjangan ini ternyata menjadi salah satu alasan, mengapa banyak vendor smartphone yang belum memasang fitur NFC. Salah satunya diakui oleh Vivo, vendor ponsel asal China.

"Mungkin kalau melihat tren konsumen di Indonesia, untuk segmentasi yang disasar oleh Vivo saat ini, NFC belum terlalu dibutuhkan," jelas Tyas Rarasmurti, PR Manager Vivo Indonesia.

Beberapa vendor juga mencabut teknologi NFC ketika memboyong produknya ke Indonesia, meski saat diluncurkan secara global fitur itu tercantum dalam daftar spesifikasi. Mengapa demikian? Apakah untuk menekan harga?

Baca juga: Layanan Uang Digital Telkomsel Kini Pakai Teknologi NFC

Menurut Muhammad Firman, Head of PR Asus Indonesia, untuk menghadirkan NFC di smartphone memang ada biaya ekstra yang harus dikeluarkan.

"Secara rata-rata, penambahan chip dan fitur NFC hanya menambah extra cost sekitar 10-20 dollar AS (sekitar Rp 140.000 - 280.000)," ungkap Firman.

Tapi tentunya, semua kembali ke kebijakan masing-masing vendor. Di Indonesia populasi smartphone ber-NFC juga masih sangat kecil.

15 persen di pasar

Firma riset pasar IDC mencatat pada tahun 2018, dari total pengapalan smartphone di Indonesia hanya 15,8 persen yang memiliki NFC.

Kabar baiknya, baru-baru ini, Qualcomm telah merilis chipset Snapdragon 215 yang salah satu fiturnya memungkinkan ponsel harga miring untuk mendapatkan fitur NFC.

Sebab, selama ini NFC lebih banyak melekat di ponsel-ponsel mahal, berbanderol harga di atas Rp 5 jutaan.

Baca juga: Resmi, Snapdragon 215 Boyong NFC ke Ponsel Murah

Meski ada juga beberapa vendor yang berbaik hati melengkapi ponsel harga Rp 2 jutaannya dengan fitur NFC, seperti Nokia dengan seri 3.1 Plus dan 4.2 miliknya.

Hands-on Nokia 3.1 PlusAndreas/Kompas.com Hands-on Nokia 3.1 Plus

Belum jadi pilihan utama

Desmal mengatakan, NFC memang sangat membantu aktivitas sehari-hari, terutama jika tinggal di Jakarta. Tapi jika dilihat lebih luas lagi ke luar Jakarta, NFC belum terlalu dibutuhkan menurut Desmal.

Hal ini dikarenakan tersedianya alternatif pembayaran cashless lain misalnya dengan memanfaatkan e-wallet, di mana pengguna cukup memindai QR Code.

Fitur yang dibutuhkan untuk memindai adalah kamera, yang tentu saja dimiliki semua smartphone dari segala macam segmen.

Namun, dengan infrastruktur seperti tol dan transportasi publik yang diperkuat dengan sistem digital, keberadaan NFC tentu masih diperlukan untuk efisiensi dan fleksibiltas.

Meski sifatnya masih berupa alternatif, NFC belum menjadi pilihan utama.

Baca juga: Video: Hands-on Nokia 3.1 Plus, Rp 1,9 Juta Punya NFC



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X