Diuji, Kecepatan Internet 5G Smartfren Tembus 8,7 Gbps

Kompas.com - 19/08/2019, 20:32 WIB

"Karena 28 GHz akan membutuhkan investasi yang tinggi," jelas Merza.

Hal senada juga diungkap Denny Setiawan, Direktur Penataan Sumber Daya Ditjen SDPPI. Maka dari itu, Denny mengatakan pemerintah sedang mengkaji lagi tata ulang frekuensi.

"Memang ada frekuensi lain yang sekarang lagi ramai ada 3,5 GHz, 2,6 GHz, 700 MHz tapi masih ada penggunanya. Kita sedang mengkaji juga bagaimana cara kita bisa mempercepat itu," jelas Denny.

Baca juga: Peta Sebaran Jaringan 5G di Dunia dari Pembuat Speedtest

Ia belum mau mengungkap perkiraan biaya hak penggunaan (BHP) yang akan dibanderolkan ke pengguna frekuensi nantinya. Pihaknya juga masih mengkaji ihwal regulasi yang akan diterapkan untuk implementasi 5G di sektor industri.

"Apakah nanti kita berikan ke operator seluler atau yang punya kawasan (pabrik)? Boleh enggak nanti kerja sama? Nah ini kebetulan satu grup ( Smartfren-Sinarmas) jadi tak masalah, tapi kalau beda grup bagaimana," jelasnya.

Di sisi lain, Dirjen SDPPI, Ismail MT mengatakan bahwa ekosistem jaringan 5G di Indonesia dikendalikan utamanya oelh operator. Artinya perusahaan telekomunikasi punya peluang melakukan monetisasi pendapatan.

"Kalau aturan-aturan, dibuat kalau perlu. Kalau tidak perlu ya tidak usah," jawab Ismail.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X