Ketika Startup Indonesia Jadi Idaman Perusahaan Teknologi Amerika

Kompas.com - 07/12/2020, 09:24 WIB
CEO Bukalapak Rachmat Kaimuddin (kanan) dan Presiden Direktur Microsoft Indonesia Haris Izmee berfoto bersama usai penandatanganan kemitraan strategis kedua perusahaan MicrosoftCEO Bukalapak Rachmat Kaimuddin (kanan) dan Presiden Direktur Microsoft Indonesia Haris Izmee berfoto bersama usai penandatanganan kemitraan strategis kedua perusahaan

Katakanlah Facebook, di mana kawasan Asia Pasifik menjadi wilayah dengan basis pengguna aktif bulanan terbesar dengan penetrasi 42 persen di kuartal III-2020. Asia Pasifik menyumbang 19 persen dari pendapatan Facebook pada periode yang sama.

Kawasan ini juga menyumbang 18 persen dari total pendapatan Google dalam sembilan bulan terakhir yang berakhir pada bulan September lalu.

Potensi startup di Asia Tenggara

Jefrey Joe, co-founder and general partner di modal ventura Alpha JWC, mengatakan masuknya startup Indonesia dalam peta investasi perusahaan AS tidak terlepas dari peran Sea Group, perusahaan publik asal Singapura.

Sea Group yang terdaftar di New York Stock Exchange kini menjadi perusahaan paling bernilai di Asia Tenggara. Salah satu anak perusahaan Sea Group adalah e-commerce Shopee yang saat ini menjadi salah satu e-commerce papan atas di Indonesia.

Menurut Joe, Sea Group berhasil "mendidik" pasar Asia Tenggara, menunjukkan pada dunia bahwa perusahaan di Asia Tenggara bisa menjadi perusahaan yang berkembang, stabil, dan punya pondasi yang kuat.

Indonesia, menurut Joe, adalah pasar potensial bagi layanan dompet digital Sea Group, SeaMoney. Dirangkum dari Nikkei Asia, nilai saham Sea Group naik lebih dari empat kali lipat tahun ini.

Bukan cuma soal modal

Suntikan dana dari perusahaan AS bukan cuma menguntungkan dari segi modal saja bagi startup di Indonesia. Investasi juga memungkinkan perusahaan rintisan untuk meningkatkan profil mereka di "muka" investor global lainnya.

Hal ini penting apabila mereka berencana untuk ekspansi pasar di luar Indonesia, misalnya dengan skema dual listing di pasar luar negeri. Joe menambahkan sumber modal alternatif bagi startup yang telah berdiri selama 10 tahun dan tumbuh pesat, cukup terbatas.

Investor konvensional, menurut Joe bisa saja kurang "nyaman" dengan nilai valuasi yang dimiliki startup. Di sinilah ruang yang bisa dimasuki perusahaan Silicon Valley.

Baca juga: Telkomsel Kucurkan Dana Rp 2,1 Triliun ke Gojek

"Terlebih, mereka (perusahaan teknologi global) telah memahami permainan. Mereka paham apa yang (startup) unicorn bangun karena mereka juga telah melewati proses tersebut (yang sama)," jelas Joe.

Stegmann mengatakan, saat ini investor tidak hanya melirik investasi untuk mengembangkan super-app dan payment saja.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X