Tentang "Citra", Nama di Hidung Pesawat Sriwijaya Air SJ182

Kompas.com - 13/01/2021, 10:21 WIB
B737-500 Sriwijaya Air registrasi PK-CLC, dengan nosename Citra. Pesawat ini jatuh di perairan Kepulauan Seribu pada Sabtu (9/1/2021). Jetphotos.com/Abdiel IrvanB737-500 Sriwijaya Air registrasi PK-CLC, dengan nosename Citra. Pesawat ini jatuh di perairan Kepulauan Seribu pada Sabtu (9/1/2021).

KOMPAS.com - "Citra", itulah nama yang tertera di hidung pesawat B737-500 Sriwijaya Air registrasi PK-CLC, yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu pada Sabtu (9/1/2021).

Maskapai Sriwijaya Air memang dikenal gemar memberi nama-nama pada pesawatnya, atau dalam dunia penerbangan lazim disebut nosename.

Tak banyak maskapai yang masih mempertahankan tradisi nosename ini di armada pesawatnya.

Garuda Indonesia pernah menggunakan nosename pada tahun '60 sampai '70-an. Seperti di armada DC-8 yang menggunakan nama-nama pahlawan, atau armada DC-9 dengan nama-nama sungai di Indonesia, contohnya Barito, Kapuas, dan Serayu.

Baca juga: Pesawat Garuda Menembus Badai Es dan Mendarat di Bengawan Solo

Lantas, apa arti nama Citra di hidung pesawat B737-500 Sriwijaya Air? Namun, sebelum membahas siapa atau apa Citra, kita tengok bagaimana penamaan nosename di maskapai Sriwijaya Air.

Jika dicermati, ada beberapa klasifikasi nama nosename yang biasa dipakai oleh Sriwijaya Air. Pertama adalah nama-nama sifat baik dan istilah di Alkitab, seperti:

- Megah (B737-200 PK-CJF)
- Kemuliaan (B737-500 PK-CLE)
- Keberkahan (B737-900 PK-CMO)
- Penyeru (B737-800 PK-CMQ)
- Tamariska (B737-800 PK-CMH)

Kemudian ada klasifikasi nama-nama wanita, seperti:

- Shella (B737-200 PK-CJK)
- Sharon (B737-200 PK-CJM)
- Sherly (B737-200 PK-CJN)
- Lomasasta (B737-200 PK-CJO)
- Emi/Emilio (B737-200 PK-CJD)

Nama-nama tersebut, menurut sumber yang dekat dengan Sriwijaya Air, adalah nama-nama anggota keluarga pendiri Sriwijaya Air.

Selain itu, ada pula klasifikasi nama-nama daerah di Indonesia, khususnya di wilayah Bangka-Belitung, tempat kelahiran Sriwijaya Air. Nama-nama yang dipakai antara lain:

- Membalong (B737-200 PK-CJI)
- Serumpun Sebalay (B737-200 PK-CJG)
- Bukit Kejora (B737-200 PK-CJL)

Lalu, ada klasifikasi nama burung. Tak banyak nama jenis burung yang digunakan Sriwijaya Air, tercatat hanya Elang (B737-300 PK-CJT) dan Rajawali (B737-800 PK-CRE).

Tentang nama Citra sendiri, jika menelusuri sejarah berdirinya Sriwijaya Air, kemungkinan nama Citra diambil dari nama usaha penjualan tiket yang dirintis oleh para pendiri Sriwijaya Air, sebelum membuat perusahaan penerbangan.

Baca juga: Ini Bukti Malaysia Airlines MH370 Sengaja Hindari Radar

Laman Sriwijayaair-online.com dari halaman Web Archive, yang menampilkan informasi sejarah Sriwijaya Air yang bermula dari usaha tiket Rajawali Citra Mega Perkasa (RCMP).Web Archive Laman Sriwijayaair-online.com dari halaman Web Archive, yang menampilkan informasi sejarah Sriwijaya Air yang bermula dari usaha tiket Rajawali Citra Mega Perkasa (RCMP).
Adapun nama perusahaan penjualan tiket itu adalah Rajawali Citra Mega Perkasa Travel. Hal ini diperkuat dengan nama-nama di unsur tersebut yang juga digunakan sebagai nosename, seperti Rajawali, Mega, dan Perkasa.

Halaman web archive dari situs Sriwijayaair-online.com sendiri juga menuliskan riwayat maskapai Sriwijaya Air, yang "bermula dari mengembangkan Usaha Penjualan Ticket lewat RCMP (Rajawali Citra Mega Perkasa)".

Nama-nama tersebut di atas juga tampaknya bukan asal dipilih saja. Ada filosofi di balik pemilihan nama itu. Sumber dalam KompasTekno juga mengatakan bahwa para pendiri Sriwijaya Air adalah orang yang penuh filosofi.

"Walau misal namanya diambil dari histori Rajawali Citra Megah Perkasa itu, biasanya ada lagi filosofi lainnya. Beliau (pendiri Sriwijaya Air) orangnya sangat filosofis sekali," ujar sumber KompasTekno.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Reza Febrisandi (@rfoxtrot_21)

Ia mencontohkan, nama Tamariska yang juga dipakai sebagai nosename pesawat. Tamariska adalah tumbuhan yang bisa bertahan di tengah kondisi gurun yang tandus.

"Harapannya Sriwijaya Air bisa tetap tumbuh bagaikan Tamariska, walaupun dalam kondisi yang (susah) seperti gurun tandus," kata sumber tersebut.

Kini, Sriwijaya Air memang tengah dirundung malang dan duka. Pesawat B737-500 yang mengangkut 62 penumpang (termasuk 12 kru Sriwijaya Air) jatuh di perairan Kepulauan Seribu.

Dalam kondisi sulit seperti inilah dibutuhkan kekuatan dan ketegaran dari Sriwijaya Air, layaknya ketangguhan Tamariska di gurun tandus.

Baca juga: AirAsia QZ8501 Menukik Kemudian Jatuh Berputar di Selat Karimata



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X