Tips Menjaga Keamanan Anak di Internet

Kompas.com - 09/02/2021, 15:33 WIB

KOMPAS.com - Tim Trust and Safety Research dari Google baru-baru menggelar sebuah riset terkait pendapat orang tua tentang keamanan online anak ketika beraktivitas di internet.

Ternyata, 51 persen orangtua dari anak yang bersekolah online selama pandemi merasa kekhawatiran yang meningkat tentang keamanan online.

Ada tiga kekhawatiran terbesar orang tua saat ini, yaitu keamanan informasi anak, interaksi anak di ruang maya, dan konten yang dikonsumsi oleh anak di ruang maya.

Ciput Eka Purwianti selaku Asisten Deputi Perlindungan Anak dalam Situasi Darurat dan pornografi Kementeriam PPPA RI mengungkapkan bahwa anak-anak di usia sekolah memang menjadi salah satu pihak yang paling rentan di ruang maya.

Mengutip sebuah riset, Ciput mengungkapkan bahwa ada tiga risiko utama yang mengancam anak-anak ketika berselancar di dunia maya.

Baca juga: 3 Hal yang Jadi Kekhawatiran Orangtua di Indonesia, Saat Anak Main Internet

Pertama, anak-anak rentan menerima serangan siber. Anak-anak bisa menerima konten yang berisi eksploitasi seksual, tindakan menyakiti diri sendiri, bunuh diri, konten pronografi hingga konten berbau radikalisme.

Selajutnya anak-anak juga rentan mengalami adiksi siber, seperti ketagihan gadget atau konten di internet.

"Ada laporan bahwa di Sukabumi dan Solo, anak usia di bawah 10 tahun sudah adiksi pada gawai, tidak bisa lepas. Bahkan ada yang adiksi pada pornografi," kata Ciput dalam sebuah diskusi online yang diselenggarakan Google Indonesia secara daring, Selasa (9/2/2021).

Anak-anak juga rentang melakukan atau menerima perundungan siber (cyber-bullying). Hal ini, kata Ciput, dapat terjadi karena pemahaman anak-anak masih belum dewasa dan komprehensif.

Google ungkap 51 persen orangtua mengaku khawatir terkait keamanan online anak-anaknya.Blog Google Google ungkap 51 persen orangtua mengaku khawatir terkait keamanan online anak-anaknya.
Tips lindungi keamanan anak di ruang maya

Walaupun menjadi kalangan yang paling rentan, tak bisa dipungkiri internet juga sudah menjadi bagian dari kehidupan anak-anak. Internet kerap digunakan untuk melakukan pembelajaran jarak jauh, mencari hiburan, dan berkomunikasi dengan teman sebaya.

Untuk melindungi anak dari berbagai kejahatan siber, para orang tua harus siap mengawal aktivitas online sang anak.

Menurut Lucian Teo, Online Safety Education Lead Google, salah satu hal yang paling pertama dibangun oleh orang tua ialah membangun kepercayaan dengan anak.

Baca juga: Mengenal Perilaku Oversharing di Media Sosial dan Bahaya yang Mengintai

Hal ini mengingat anak-anak sudah mulai mengeni internet di usia yang sangat dini. Dengan adanya rasa saling percaya ini, diharapkan anak-anak akan selalu terbuka kepada orang tuanya terkait aktivitas online yang mereka kerjakan.

Selanjutnya, orang tua juga perlu menggunakan berbagai fitur atau aplikasi keamanan online untuk melindungi anak-anak mereka ketika berselancar di internet.

Teo mengungkapkan, orang tua bisa memanfaatkan fitur safe search pada Google Search, mode terbatas pada Youtube, atau menggunakan aplikasi Family Link untuk mengontrol aktivitas online anak.

Dari hasil riset Google, sebanyak 66 persen orang tua yang diwawancarai sudah menerapkan berbagai futur kemanan online tersebut. Orang tua juga bisa memberikan penjelasan dan pemahaman soal dasar-dasar keamanan online yang perlu diketahui anak.

Menurut Teo, langkah ini menjadi salah satu yang krusial karena masih ada keluarga yang belum atau enggan membicarakan soal keamanan online dengan anaknya.

Orang tua juga perlu mengajak anak berdiskusi soal bahaya berinteraksi dengan orang asing di ruang maya, bicara tentang game yang dimainkan atau video yang ditonton, serta orang-orang yang ditemui secara online.

"Saya selalu mengingatkan anak saya untuk langsung memberi tahu saya saat dia menemui situasi online yang membuat tidak nyaman," kata Teo.

Baca juga: 2020, Masih Ada yang Pakai Password Gampang Ditebak

Lalu berikan pemahaman tentang pentingnya melindungi indentitas digital. "Orang tua bisa mengajarkan anak cara untuk membuat sandi yang kuat dan tidak mudah ditebak," kata Teo.

Menurut Teo, pada akhirnya, hal terpenting dalam mengasuh anak adalah hubungan yang dibangun antara orangtua dengan anak-anak mereka.

Sependapat dengan Teo, Ciput mengungkapkan orangtua harus turut hadir dan berperan ketika anak-anak berselancar di internet, entah itu ketika mengakses konten edukasi, hiburan, atau yang lainnya.

Ciput mengaku miris dengan kebiasaan sejumlah orangtua yang justru menyodorkan gawai dan konten hiburan kepada anak-anak mereka agar bisa diam dan tidak membuat keributan (tantrum). 

"Kalau tidak ada pendampingan orangtua, anak-anak berpotensinya menjadi asosial, karena terlalu asyik dengam dunianya sendiri," ungkap Ciput.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.