Qualcomm Ternyata Sempat Ingin seperti Huawei

Kompas.com - 10/03/2021, 12:10 WIB
Pendiri Qualcomm, Irwin Jacobs wired.comPendiri Qualcomm, Irwin Jacobs
|
Editor Oik Yusuf

KOMPAS.com - Qualcomm dikenal sebagai pabrikan Snapdragon berikut aneka chip dan teknologi lain di dunia mobile. Perusahaan ini dulu sempat menjual ponselnya sendiri, tapi kemudian beralih ke belakang layar.

Pendiri Qualcomm Irwin Jacobs mengungkapkan bahwa, di masa-masa awal, perusahaannya sempat mempertimbangkan untuk menjadi seperti Huawei yang mengembangkan infrastruktur jaringan seluler dan menjual produk secara langsung.

Namun, kendati sempat membuat base station dan ponsel komersial sendiri, fokus Qualcomm ketika itu berada di hal lain. "Kami sempat memikirkannya, tapi kami ingin CDMA diadopsi di seluruh dunia," ujar Jacobs dalam sebuah wawancara dengan Wired.

Baca juga: Qualcomm Buka Toko Resmi di Tokopedia, Jual Apa?

Di awal 1990-an,  Qualcomm memang sedang mendorong standar seluler Code Division Multiple Access alias CDMA. Tujuan itu akan lebih sulit tercapai seandainya Qualcomm menjadi seperti Huawei sehingga menyaingi operator-operator seluler.

Konsekuensinya baru terasa sekarang ketika Amerika Serikat tidak memiliki raksasa telekomunikasi sekaliber Huawei.

Pemerintah AS berusaha membendung Huawei karena perang dagang dengan China, tapi posisinya agak sulit karena Huawei menguasai pengembangan teknologi 5G dan produk infrastruktur jaringannya banyak dipakai di seluruh dunia, termasuk di AS.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Jacobs awalnya mengira para pemain asal Amerika Serikat akan bertahan di industri. Namun, satu per satu mereka berguguran. Motorola, misalnya, menjual bisnis infrastruktur jaringannya ke Nokia pada 2010.

Baca juga: Manuver Huawei, ZTE, dan Xiaomi Melawan Blacklist AS

Dengan membuat schip untuk perangkat mobile, Qualcomm juga turut mempermudah kompetitor dari China menyerbu pasar karena mereka bisa menelurkan produk baru dengan sangat cepat. Jacobs menyayangkan perusahaan AS tak ada yang melakukan hal serupa.

Satu hal lain yang membuat AS tak memiliki perusahaan seperti Huawei, menurut Jacobs, adalah absennya dukungan dari pemerintah terhadap para pelaku industri telekomunikasi.

"Pemerintah AS tidak memberikan support untuk riset dan pengembangan, seperti yang didapatkan oleh Huawei atau ZTE dari pemerintah mereka," ujar Jacobs, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Wired, Rabu (10/3/2021).




Sumber Wired
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.