Google Izinkan Pengguna Matikan Pelacakan di Ponsel Android

Kompas.com - 07/06/2021, 12:31 WIB

KOMPAS.com - Apple telah menggelontorkan fitur anti-pelacakan iklan alias App Tracking Transparency (ATT) melalui iOS 14.5 pada akhir April lalu,

Dengan fitur tersebut, pengguna iPhone kini dapat mengontrol aplikasi mana saja yang diizinkan untuk melacak aktivitas pengguna untuk tujuan periklanan online.

Langkah yang ditempuh Apple tersebut akhirnya diikuti juga oleh Google. Namun dengan mekanisme yang berbeda.

Alih-alih menggunakan prompt persetujuan seperti Apple, Google akan memberikan opsi anti-pelacakan. Untuk ini, Google memanfaatkan pengidentifikasi iklan alias advertising ID di layanan Google Play.

Google menjelaskan, advertising ID ini sendiri bersifat unik dan dapat disetel ulang sesuai keinginan pengguna. Sehingga boleh dibilang, advertising ID ini berperan sebagai pelacak aktivitas pengguna Android.

Nah, pengguna akan memiliki opsi untuk opt out alias tak lagi dilacak untuk kepentingan iklan yang dipersonalisasi, ketika menggunakan aplikasi.

"Mulai akhir tahun 2021, advertising ID akan dihapus saat pengguna memilih opt out dari iklan yang dipersonalisasi di setelan Android," tulis Google dalam sebuah unggahan di laman Support Google.

Pengguna bisa mematikan pelacakan iklan yang dipersonalisasi dengan cara pergi ke pengaturan > "Google" > "iklan".

Nah, ketika pengguna sudah memilih opt out, aplikasi tidak akan dapat mengumpulkan tanda pengenal (identifier) dari pengguna lagi. Sehingga, secara teknis, aplikasi tak bisa lagi melacak pengguna untuk memberikan iklan yang dipersonalisasi.

Baca juga: Pendiri Telegram: Pengguna iPhone Adalah Budak Digital Apple

Rencananya, Google pertama kali akan menggelontorkan fitur anti-pelacakan iklan ini pada ponsel Android 12, mulai akhir 2021 nanti. Lalu secara bertahap akan digulirkan ke pengguna Andorid lainnya pada awal 2022.

Lebih lanjut, Google mengatakan bahwa sebenarnya pemanfaatan advertising ID ini bukan sebatas untuk kepentingan makrketing dan iklan saja. Namun, juga termasuk untuk tujuan lain seperti analitik dan pencegahan penipuan.

Makanya, kata Google, pada Juli mendatang, pihaknya akan memberikan solusi alternatif untuk mendukung kasus penggunaan penting seperti analitik dan pencegahan penipuan, khususnya ketika pengguna memilih opt out, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari GSM Arena, Senin (7/6/2021).

Baca juga: Iklan Digital Tetap Tumbuh Selama Pandemi, Bahkan Pecahkan Rekor 20 Tahun

Aplikasi harus cantumkan "label privasi"

Sebelum mengumumkan fitur anti-pelacakan ini, Google lebih dahulu mengumumkan kewajiban baru untuk setiap aplikasi yang terdaftar di toko aplikasi Google Play Store.

Mulai tahun depan, aplikasi di Play Store harus menampilkan keterangan soal informasi privasi. Infromasi privasi ini mirip dengan label privasi (nutrition labels) yang ada di setiap halaman aplikasi di App Store.

Di Android, keterangan informasi privasi ini meliputi beberapa hal. Pertama soal data pengguna apa saja yang dikumpulkan oleh aplikasi, seperti lokasi, kontak, alamat e-mail, dan sebagainya. Kedua juga soal data pengguna apa saja yang dibagikan aplikasi dengan pihak ketiga.

Baca juga: Lacak Data Pengguna untuk Iklan, Google Bakal Pakai Cara Apple

Selain itu, informasi privasi aplikasi ini akan memberikan detail tambahan yang berkaitan dengan privasi dan keamanan data pengguna.

Misalnya aplikasi harus mendeklarasikan apakah data pengguna telah dienkripsi dan apakah aplikasi telah memathui aturan Google, terutama yang berkaitan dengan pengguna anak-anak.
Aplikasi juga harus mengungkapkan apakah pengguna bisa meminta agar datanya tidak dibagikan atau bahkan dihapus atau tidak.

Google mengatakan, inisiatif penambahan informasi privasi pada setiap aplikasi yang terdaftar di Play Store ini, semata-mata bertujuan untuk membantu pengguna memahami privasi dan keamanan data miliknya.

Para pengembang aplikasi dapat mulai mendeklarasikan informasi privasi aplikasinya mulai kuartal terakhir 2021 ini. Dengan begitu, pada awal tahun 2022, informasi privasi sudah bisa mulai ditampilkan di halaman aplikasi yang ada di Play Store.

Bila aplikasi tak memenuhi kewajibannya hingga kuartal II-2022, aplikasi akan diblokir dari Play Store, sebagaimana dihimpun dari The Verge.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber GSM Arena
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.