Pengamat Ungkap Biang Keladi Ponsel Asus dan Xiaomi "Gaib" di Pasaran

Kompas.com - 23/05/2018, 10:59 WIB
Ilustrasi unboxing Xiaomi Redmi Note 5.
KOMPAS.com/ OIK YUSUFIlustrasi unboxing Xiaomi Redmi Note 5.
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Sulitnya mendapatkan beberapa jenis ponsel baik lewat mekanisme flash sale maupun membeli langsung di gerai resmi membuat pengguna melabeli ponsel tersebut dengan istilah "ponsel gaib".

Istilah ini bermakna bahwa ponsel tersebut beredar dan dijual di pasar, namun sangat sulit untuk ditemukan karena laku keras.

Asus dan Xiaomi beberapa waktu belakangan ini kerap mendapat label "ponsel gaib". Bahkan dalam satu kesempatan, Asus meminta maaf kepada para pengguna karena sulitnya mendapatkan perangkat ini.

Baca juga: Asus Bandingkan ZenFone Max Pro M1 dengan Redmi Note 5

Melihat fenomena ini, pengamat gadget Herry SW mengatakan bahwa sejatinya ada beberapa faktor yang melatarbelakangi munculnya istilah "ponsel gaib" ini.

Salah satunya bisa terjadi karena perusahaan memang menerapkan strategi hunger marketing di mana pembeli dibuat penasaran dengan stok dan waktu yang terbatas.

Namun khusus untuk fenomena "ponsel gaib" yang terjadi belakangan ini, Herry menilai bahwa hal tersebut terjadi karena adanya tindakan kecurangan yang dilakukan oleh pihak tak bertanggungjawab.

Ia menilai ada beberapa pihak yang bertindak sebagai tengkulak di mana ia mengumpulkan sebuah produk atau ponsel dalam jumlah yang besar, kemudian dijual lagi ke pasar.

"Kalau kita lihat dengan apa yang terjadi di pasar belakangan ini, yang ikutan (flash sale) itu tidak murni end user. Tapi ada pemain lain yang bertindak sebagai pebisnis, atau tengkulak, dll," ungkap Herry saat berbincang dengan KompasTekno, Selasa (22/5/2018).

"Terutama kalau kita lihat habisnya itu sangat cepat. Nah, tidak lama setelah itu selalu ada yang jual. Mereka bisa saja bermain nakal. Ada yang pakai joki atau botscript (untuk flash sale), ada yang nimbun juga," lanjutnya.

Ia pun menambahkan bahwa selain ulah tengkulak, sulitnya pembeli mendapatkan ponsel tersebut juga bisa dilatarbelakangi karena keterbatasan produksi. Agar fenomena ini tidak terus menerus terjadi, Herry juga mengatakan diperlukan juga profesionalisme dari e-commerce yang menjual produk tersebut.

"Profesionalisme marketplace juga sangat berpengaruh. Ada kejadian sebuah e-commerce membuat flash sale jam 11, tapi jam 10.15 atau 10.45 sudah ada pengguna yang berhasil membeli. Jam 11 malah sudah habis," ungkapnya.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X