Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Berapa Alokasi Lebar Pita yang Ideal di 26 GHz untuk 5G?

Kompas.com - 02/12/2019, 19:17 WIB

KOMPAS.com - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) beberapa waktu lalu mengungkap tiga kandidat frekuensi untuk menggelar jaringan 5G di Indonesia. Salah satu kandidat terkuatnya adalah frekuensi 26 GHz yang berada di layer upper band.

Frekuensi ini masih kosong dan akan menjadi andalan untuk implementasi 5G apabila ingin segera dikomersialkan. Namun, frekuensi ini harus dibagi-bagi untuk operator seluleragar bisa menjalankan jaringan 5G.

Setiap operator, nantinya akan memiliki alokasi lebar pita masing-masing. Alokasi tersebut akan diperoleh melalui proses lelang.

Menurut Arief Mustain, Dewan Anggota Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI), lebar pita frekuensi yang ideal untuk masing-masing operator seluler berada di kisaran 200 MHz hingga 800 MHz.

Arief menjelaskan pita frekuensi yang dibutuhan jaringan 5G memang jauh lebih lebar dibanding jaringan 3G atau 4G untuk mengoptimalkan jaringan. Biasanya, alokasi lebar pita yang digunakan pada jaringan 3G maupun 4G hanya kisaran satu atau dua digit, tidak mencapai angka ratusan.

"Operator seluler selalu lapar tentang bandwitdh, karena pasti di satu BTS (base transceiver station) digunakan banyak ponsel. Dia (pita frekuensi) harus lebar supaya dapat kualitas yang bagus," jelasnya saat ditemui di sela-sela acara Selular Outlook 2020 di Jakarta Senin (2/12/2019).

Baca juga: Kominfo Ungkap Tiga Opsi Frekuensi untuk 5G di Indonesia

Lebih lanjut, Arief mengatakan halini menjadi salah satu tantangan implementasi 5G di Indonesia. Sebab, biaya yang dibutuhkan operator seluler untuk menyewa frekuensi akan sangat mahal.

"Sudah barang tentu, pemerintah akan melihat nanti ada kebijakan baru di 5G, seperti soal aturan spectrum sharing yang masih disiapkan juga," imbuhnya.

Kendati demikian, Arief enggan mengungkap berapa harga yang pantas untuk sewa frekuensi untuk menggelar 5G di Indonesia. Ia hanya berharap harga apabila telah teralisasi, harga yang dipatok tidak akan membebankan end user.

"Istilahnya kan ini modal yang harus dikeluarkan sehingga nanti akan berimbas pada harga di end user," katanya.

Baca juga: ITU Umumkan Tambahan Frekuensi untuk Jaringan 5G Global

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.