Alasan "Free Fire" Jadi Game yang Dilombakan di Piala Presiden Esports 2020

Kompas.com - 28/01/2020, 07:01 WIB
Ilustrasi Free Fire Free FireIlustrasi Free Fire

JAKARTA, KOMPAS.com - Turnamen game Piala Presiden Esports 2020 memasuki tahun kedua.

Pada tahun pertama, sang penyelenggara turnamen memilih game Multiplayer Online Battle Arena (MOBA) besutan Moonton, Mobile Legends: Bang Bang (MLBB), sebagai game tunggal yang dipertandingkan.

Nah, di tahun kedua ini, alih-alih MLBB, pihak penyelenggara turnamen justru memilih game battle royale keluaran  GarenaFree Fire, untuk dikompetisikan. 

Menurut Ketua Panitia Penyelenggara Piala Presiden Esports 2020, Giring Ganesha Djumaryo, ada alasan tersendiri mengapa game tersebut dipilih untuk turnamen tahun ini.

Baca juga: Telkomsel Gelar Kompetisi Game Free Fire Berhadiah Puluhan Juta Rupiah

Salah satu alasannya adalah komitmen Garena yang ingin membuat game tersebut menjadi aman dan nyaman untuk dimainkan di dalam ajang permainan kompetitif. 

Ketua Penyelenggara Piala Presiden Esports 2020, Giring Ganesha Djumaryo, saat dijumpai KompasTekno di acara kolaborasi Samsung dengan Piala Presiden Esports 2020 di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, Senin (27/1/2020).KOMPAS.com/Bill Clinten Ketua Penyelenggara Piala Presiden Esports 2020, Giring Ganesha Djumaryo, saat dijumpai KompasTekno di acara kolaborasi Samsung dengan Piala Presiden Esports 2020 di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, Senin (27/1/2020).

"Mereka (Garena) siap untuk membuat game Free Fire menjadi ramah secara visual," ujar Giring kepada KompasTekno di acara kolaborasi Samsung dengan Piala Presiden Esports 2020 yang digelar di Hotel Shangri-La, Jakarta Selatan, Senin (27/1/2020).

Maksud ramah yang dibilang Giring tadi adalah pihak Garena setuju untuk menghilangkan beberapa elemen dan efek di dalam game Free Fire yang disebut tak pantas ditampilkan di turnamen yang membawa nama "Presiden", apalagi ditunjukkan ke anak-anak.

Beberapa di antaranya seperti efek "darah" yang bakal muncul ketika pemain "membunuh" musuhnya, hingga efek "mayat" di dalam game yang diwakilkan dengan objek "tengkorak".  

Selain sepakat untuk melenyapkan beberapa efek, Free Fire juga dinilai sukses dan terbukti berkontribusi terhadap skena esports di Tanah Air.  

Baca juga: Garena Gelar Turnamen E-Sports Free Fire Master League di Indonesia

Hal itu terlihat dari tim asal Indonesia, Evos Capital, yang menjuarai turnamen bergengsi kelas internasional bertajuk Free Fire World Cup 2019 yang digelar tahun lalu.

Tak hanya itu, upaya Garena untuk memajukan esports di level remaja (amatir) yang terbilang unik juga turut menjadi alasan dipilihnya game tersebut.

"Free Fire punya komitmen untuk mengadakan beragam kompetisi anak-anak sekolah," tutur Giring.

"Mereka yang mau ikut (turnamen) nilai rapor-nya wajib bagus (70 ke atas), yg tidak bagus tidak boleh ikut turnamen," pungkasnya. 



Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X